Senin, 02 Februari 2015

Orang Sakit

Biw, ku harap kamu tidak bosan untuk membaca apapun yang akan aku tulis hari ini. Karena aku sungguh menunggu detik - detik ini, saat aku duduk lalu menuliskan semua yang aku pikirkan. Menulis kata demi kata, anggap saja aku sedang bicara. Sehingga ketika tulisan ini kau baca, kau tak bisa lagi berpura - pura tidak mendengarnya.
Setelah sekian lama, seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, bahwa semua masih sama. Cinta dan rindu semuanya tetap sama, walau aku tau kian lama membiarkan itu semua hanya memperburuk semuanya. Termasuk luka dari kehilangan yang selalu meminta segera disembuhkan.
Ini hari senin pertama di bulan februari yang basah, seperti biasa pasien yang datang tidak pernah sedikit, kau pun pasti tau. Karena seringkali aku hanya mengeluhkan soal itu padamu, yang sebenarnya tidak tahu apa - apa soal orang sakit.
Pasien terakhirku datang beberapa menit menjelang waktu makan siang, seorang ibu dengan riwayat penyakit gula lama dan memiliki sebuah luka borok yang besar di kakinya. Ia datang sendiri, tak ada yang mengantar seorangpun. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana perih yang dia tahan selama berjalan.

"Bu, apa keluhan ibu sekarang?" Tanyaku sambil memikirkan obat apa yang mungkin bisa aku berikan.
"Tidak ada" jawabnya singkat.
Aku mengangkat kepala, mengulang pertanyaanku. "Keluhan ibu apa?"
"Tidak ada" jawabnya lagi tegas, aku membuang nafas. Agak kesal. "Memangnya apa yang saya dapat jika saya mengeluh sakit, selain rasa sakit itu sendiri?" Ia malah balik bertanya. "Saya ingin merasa sehat, dengan itu saya bisa sehat, saya ingin merasa sembuh, dengan begitu saya pikir saya akan bisa sembuh.."

Nafas yang tadi beraroma kesal, ku hembuskan. Ini hanya soal ilmu sugesti dan pikiran orang. Bahwa setiap pasien, setiap manusia memiliki cara untuk memecahkan masalahnya sendiri, bukan?
Dan aku pun masih manusia, Biw. Tetap manusia. Dengan lukanya sendiri, hanya tak kasat mata seperti yang pasienku punya.
Setelah pasienku pergi aku memikirkan diriku sendiri, yang sebenarnya tak jauh beda. Aku harusnya bisa belajar juga darinya, Biw. Luka bekas kau tinggalkan tak sekalipun kering malah melebar dan diperburuk dengan segenap inginku membawamu kembali ke sini. Sementara keinginanku untuk sembuh, untuk bisa melupakan semua soal kita juga sama besar. Jadilah, aku manusia yang mengorek - orek lukanya sendiri sehingga lebih infeksi.
Aku seharusnya belajar juga dari pasien terakhirku itu, bahwa untuk bisa sembuh aku harus merasa sembuh. Bahwa agar bisa lupa, aku harus lupa. Dan berita buruknya, aku tidak akan pernah lupa jika hanya merawatmu sebagai luka.

Aku harus sembuh, aku bisa lupa. Itu saja.
Walau aku tahu keluhku hanya sia - sia, aku lupa, soal orang sakit kau tidak pernah tau apa - apa.

Tertanda, lukamu.

1 komentar: