Kepada kau yang pernah indah pada waktunya jauh di masa lalu.
Apa kabar? Maaf jika doaku tak pernah lagi sanggup memenuhi segala semoga demi kebaikanmu. Kisah kita sudah lama lewat, tapi kemunculanmu di tab permintaan berteman dengan foto profilmu yang menyertakan suami dan hei siapa bayi mungil yang ada di pangkuanmu? Selucu itukah hasil dari melupakan dan pura-pura yang terjadi bertahun-tahun di antara kita berdua?
Sungguh aku tidak sedang marah, tidak sama sekali. Malah kebahagiaan menyeruak ketika ada sepenggal namaku di akta kelahiran anakmu. Apakah selama ini, aku hanya kau anggap anak??
Aku pernah dipaksa kehilangan demi pernikahan orang lain, dua kali. Dua kali! Dan kau yang pertama melakukannya. Entah apa maksud dari muncul tiba-tiba di akun facebook ku yang mulai berkarat dengan foto profil yang diambil dari sesi foto keluarga kecilmu itu.
Ingin meledek atas penyesalan yang pernah ku telan karena tak mampu memberi kepastian? Atau hanya ingin membagi kabar baik? Percayalah, melihat kau dan keluarga kecilmu baik-baik saja itu membantu ku untuk baik-baik pula. Karena mungkin yang ingin kau tau, bahwa kini aku tengah merawat diri dari luka sejenis. Pulih darimu aku dicabik-cabik oleh rencana pernikahan lainnya. Kenapa ya rasanya hampir setahun sekali, aku mengalami hal seperti ini? Aku takut jika tahun ini sampai mengalami hal yang sama kasir mini market akan menawarkan luka yang ku punya agar ditukar dengan sebuah piring cantik.
Sungguh aku tidak sedang marah, tidak sama sekali. Malah kebahagiaan menyeruak ketika ada sepenggal namaku di akta kelahiran anakmu. Apakah selama ini, aku hanya kau anggap anak??
Aku pernah dipaksa kehilangan demi pernikahan orang lain, dua kali. Dua kali! Dan kau yang pertama melakukannya. Entah apa maksud dari muncul tiba-tiba di akun facebook ku yang mulai berkarat dengan foto profil yang diambil dari sesi foto keluarga kecilmu itu.
Ingin meledek atas penyesalan yang pernah ku telan karena tak mampu memberi kepastian? Atau hanya ingin membagi kabar baik? Percayalah, melihat kau dan keluarga kecilmu baik-baik saja itu membantu ku untuk baik-baik pula. Karena mungkin yang ingin kau tau, bahwa kini aku tengah merawat diri dari luka sejenis. Pulih darimu aku dicabik-cabik oleh rencana pernikahan lainnya. Kenapa ya rasanya hampir setahun sekali, aku mengalami hal seperti ini? Aku takut jika tahun ini sampai mengalami hal yang sama kasir mini market akan menawarkan luka yang ku punya agar ditukar dengan sebuah piring cantik.
aku sedang mengingat betapa menariknya kejadian dahulu, orang tuamu menuntut segera tanggung jawab dan secara mandiri membahagiakan dirimu. Sementara bagiku, tanggung jawab membuat makalah dan seminarnya saja masih berat dilakukan. Definisi bahagiaku waktu itu masih hanya seputar betapa senangnya bisa makan seminggu sekali di foodcourt, atau bagaimana berbaik hatinya ibu pemilik warteg mau memberiku hutang untuk goreng tempe dan ikan pindang. Tapi kau malah menuntutku untuk sebuah acara pinangan?
Katakanlah aku tak cukup dewasa menyikapi angan dan inginmu waktu itu. Tapi yakinlah, aku bisa saja jadi lebih gila jika menuruti maumu untuk datang pada orang tuamu, menikahimu, lalu membawamu ke kamar kostan ku untuk menemaniku bergadang menyelesaikan Tugas Akhirku. Apakah dewasa seperti itu? Tergesa-gesa mengambil keputusan lalu di ulang tahun pernikahan yang kedua kita memutuskan berpisah? kenapa tak begitu sabar menunggu hingga aku kembali, sampai aku siap membekali lahir dan batinmu?
Dalam kasusmu, aku terima sebagai pihak yang disalahkan di depan teman-teman sekelas kita dulu. Aku faham jika kecewamu atas bimbangnya keputusanku, hingga tak mampu menyimpulkan apapun untukmu, membuatmu mudahnya membuka hati demi sosok yang namanya kau sebut di rakaat kedua istikharahmu. Tapi kenapa di dalam pesta, kepada mereka kau bilang bahwa denganku hanya sebatas cinta monyet yang tak perlu lagi dibicarakan?
Katakanlah aku tak cukup dewasa menyikapi angan dan inginmu waktu itu. Tapi yakinlah, aku bisa saja jadi lebih gila jika menuruti maumu untuk datang pada orang tuamu, menikahimu, lalu membawamu ke kamar kostan ku untuk menemaniku bergadang menyelesaikan Tugas Akhirku. Apakah dewasa seperti itu? Tergesa-gesa mengambil keputusan lalu di ulang tahun pernikahan yang kedua kita memutuskan berpisah? kenapa tak begitu sabar menunggu hingga aku kembali, sampai aku siap membekali lahir dan batinmu?
Dalam kasusmu, aku terima sebagai pihak yang disalahkan di depan teman-teman sekelas kita dulu. Aku faham jika kecewamu atas bimbangnya keputusanku, hingga tak mampu menyimpulkan apapun untukmu, membuatmu mudahnya membuka hati demi sosok yang namanya kau sebut di rakaat kedua istikharahmu. Tapi kenapa di dalam pesta, kepada mereka kau bilang bahwa denganku hanya sebatas cinta monyet yang tak perlu lagi dibicarakan?
Jika dibiarkan hidup, monyet itu sudah berusia sepuluh tahun saat ini. Masa pacaran tujuh tahun itu kamu bilang hanya sebatas kesenangan masa remaja yang selamanya tak bisa ditunggu kedewasaannya? Coba pikirkan lagi, siapa yang tidak cukup dewasa kali ini.
Apa yang salah dengan cinta monyet? Apalagi cinta monyet yang bertahan hingga tujuh tahun. Semua orang belajar dari sana sebelum mereka mencintai dengan cara yang katakanlah bisa lebih dewasa. Maaf, bukan maksudku hendak mengungkit lagi kejadian dulu. Hanya saja dunia juga perlu tahu, bahwa cinta tak cukup hanya dewasa, tapi masuk akal juga.
Apa yang salah dengan cinta monyet? Apalagi cinta monyet yang bertahan hingga tujuh tahun. Semua orang belajar dari sana sebelum mereka mencintai dengan cara yang katakanlah bisa lebih dewasa. Maaf, bukan maksudku hendak mengungkit lagi kejadian dulu. Hanya saja dunia juga perlu tahu, bahwa cinta tak cukup hanya dewasa, tapi masuk akal juga.
Maaf jika merepotkanmu dengan kedatangan suratku kali ini, maaf jika undanganmu tidak pernah ku penuhi. Karena tidak mungkin membungkus air mata sendiri sebagai hadiah pernikahanmu saat itu.
ttd.
(Cinta) Monyetmu.
(Cinta) Monyetmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar