Kaset di kepalaku masih memutar - mutar ucapan kang pos ku dua hari yang lalu. "Kamu belum move on, ya?"
Tahukah kau Biw, kepalaku terus dihantui pertanyaan itu selama dua hari ini. Seperti ada sebuah kata baru yang dikenal oleh pencerna bahasa di kepalaku. Move on. Apakah harus? Kalau orang bertanya belum, bukanya berarti aku harus melakukannya? Apakah ini semacam level yang harus aku taklukan dalam rangkaian tak berhenti mencintaimu, pun melupakanmu?
Dunia sudah sepakat sayangnya, bahwa move on memang salah satu persyaratan mutlak yang harus dilalui orang yang baru terkena serangan patah hati.
Otak manusia, tidak dirancang untuk melupakan. Dia disusun dari berbagai memori yang merekam seluruh kejadian yang dialami manusianya. Jika move on berarti melangkah maju dan tuntutannya aku harus melupakanmu, aku khawatir terjadi sesuatu dengan otakku. Aku tentu saja ingin melupakanmu, aku bahkan rindu rutinitas tanpa diganggu dengan nyeri di kepala yang di ketuk oleh palu - palu godam berbentuk senyumanmu. Lalu aku tak sabar menunggu datangnya hari di mana palu-palu itu memukul agak keras, kemudian menimbulkan amnesia ringan. Lalu, bagian yang menyimpan soal kamu di otakku, tiba - tiba menghilang.
Kadang terlintas ide, mengirim pembunuh bayaran ke dalam kepala sendiri. Mungkin mereka bisa menebas setiap sel di otak yang bisa mengingatkan bahwa pelukmu begitu hangat. Sungguh aku bahkan benci aktifitas menyakiti diri sendiri ini, mengenang seseorang yang tidak akan pernah kembali pulang. Aku benci ketika merasa lupa meletakan sesuatu, kemudian sadar semakin jauh mencari, sejauh itu pula aku kehilangan.
Aku pun benci, jika aku harus melakukan sesuatu yang tidak berguna. Ya, menghayati semua perasaan kehilangan ini apa gunanya? Tidak ada bukan? Tenanglah, aku sedang tidak menuntut jawabmu, ini hanya pertanyaan untuk diriku sendiri. pertanyaan yang membuat akupun keheranan, kenapa bisa senjata bernama logika yang biasa ku gunakan, kini lumpuh tak termanfaatkan.
Kerugian lainnya yang mungkin sajaku derita, bahwa di jauh sana bisa saja kau sedang merencanakan bahagia orang yang sekarang kau cinta. Sementara itu, aku di sini masih disibukan mengenang dan harapan - harapan bahwa kau akan segera pulang. Sebagai orang yang perhitungan, aku benar - benar sudah rugi dua kali. Dua kali.
Ini akhir pekan, dan semua rutinitasku berjalan seperti biasa. Seperti biasa, yang tidak ada kamu di dalamnya. Tanpa ucapan selamat pagi, tanpa kekhawatiran aku akan lupa makan siang, atau soal multivitamin yang lupa ku makan. Tanpa itu semua yang biasa kau ingatkan, aku baik - baik saja, Biw. Aku baik - baik saja. Ternyata hari ini, aku sangat baik - baik saja tanpa merapal namamu bersama doa sebelum tidurku.
Apakah aku sudah bisa melewatkan hari tanpamu lagi, ketika aku merasa bosan dengan rasa nyeri yang selalu ku mamahbiakan. Aku bosan merasa hampa ketika menyadari kau kini tak ada, aku bosan merasa sakit ketika ingat bahwa kau pergi tanpa satupun alasan ataupun penjelasan, aku bosan ketika ingat kau masih punya hutang satu lagi pertemuan ketika tiba - tiba saja kau mengilang. Aku bosan dengan perasaan - perasaan mengharu biru yang tak kunjung selesai ini. Aku bosan, aku ingin ini segera berakhir.
Apakah ini berarti aku sudah mulai sembuh? Apakah aku akan segera pulang kepada hati di mana seharusnya aku berumah?
Meski aku kurang tau, kau akan khawatir atau tidak jika aku lupakan. Tapi tenanglah, hatiku itu serupa kotak pandora dan kau yang ku simpan di dalamnya. Suatu saat kau akan menjadi sebuah kejutan, bahwa dalam hidupku yang sekali ini, pernah mendapatkan cinta setepat dirimu, pernah ada orang yang melengkapkan semua kekuranganku, pernah ada orang yang mampu menjejari langkah dan mencintai setiap kegemaranku. pernah ada orang yang bisa membalas semua guyonan dan candaku. Maaf, jika pada akhirnya kau hanya akan dikenang sebatas itu.
Hari ini, ijinkan aku melangkah, membuka jendela baru yang selama ini tertutup oleh semua gorden kelabu kepergianmu. Aku melangkah, yang harus kau tahu bahwa hidupku harus berjalan tanpamu.
Hari ini, ijinkan aku melupakan. Melupakan tanpa merasa menyesal karena tak sempat memperjuangkanmu hingga usai. Melupakan, bahwa pernah ada rasa kebingungan besar ketika kau mendadak hilang tanpa kabar.
Hari ini ijinkan aku mengingat, mengingat tanpa rasa sakit. Mengingat tanpa harus menyalakan serial drama di kepala bahwa kau pernah begitu tega, melupakan aku dan kau yang pernah sepakat membentuk kata 'kita'. Mengingat, bahwa mungkin di luar sana ada cinta yang lebih tepat darimu, menunggu untuk segera ku ditemukan olehku.
Dan mohon berikan aku ijin untuk satu hal terakhir, aku ingin jatuh cinta lagi.
Selalu,
Masa lalumu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar