Untuk Hijaber terbaik yang ku kenal; Risma Erlina Suryani
(dengan segala perjuangannya jauh di pedalaman Banten sana)
Aku rindu Emak! Hahahah... meski aku tidak ingat bagaimana awalnya nama Risma bisa berubah disapa jadi Emak, itu sepertinya ulah si yeni dan teman – teman yang lain ya! tapi aku selalu ingat kok Mak bagaimana kita pertama bertemu. Waktu itu hari pertama seluruh mahasiswa baru dikumpulkan di kampus, kita sama – sama berada di kelompok lima meski kamu jadi yang terakhir bergabung. Aku ingat kamu yang berjalan ke sana ke sini menghampiri setiap kelompok yang berkumpul dan bertanya “kelompok lima, bukan?” lalu saat bertanya padaku, ya betul ini kelompok lima. Sepertinya dari sana lah persahabatan kita dimulai.
Setelah Ospek selesai, ternyata kita satu jurusan! Satu kelas malah. Lalu masa sulit selama kuliah itu kita lewati berlima, bersama si yeni, si fufa, si silvi juga. (jangan bilang-bilang sama mereka soal surat ini, takut mereka minta dibuatkan jatah mereka juga) sampai saat ini kita telah mengabdi di ladang bakti masing – masing, entah bagaimana awalnya kita jadi merasa dekat satu sama lain, sampai muka kita berlima muncul di dalam gelas yang si yeni buat.
Semua itu sungguhlah layak, karena kita memang sahabat. Walau sahabatku memang banyak... hampir setiap kali masuk sekolah, aku pasti punya lagi sahabat – sahabat baru. Hehehe.. berteman dengan banyak orang memang menyenangkan sih, walau aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Yang mungkin kalian tidak tahu, dibalik sikap yang petakilan, penindas, atau jauh lebih cengeng dari anak kecil, aku tetap manusia penyendiri. Yang anehnya, aku yakin kamu tahu soal itu, walau entah bagaimana bisa aku berpikir begitu.
Maaf sebelumnya kalau harus menuliskan ini, aku bisa berpikir begitu jangan – jangan karena kita memiliki banyak kesamaan. Kita sama – sama memiliki seorang kakak yang sangat kita sayangi, kita sama – sama dibesarkan seorang perempuan bernama ibu sendirian. Yang itu berarti kita juga sama – sama kehilangan sesosok lelaki yang teramat dicintai bernama bapak. Walau jenis kelamin kita berbeda, walau kamu lebih rajin solatnya dan aku masih bolong sana sini. Walau kamu begitu rajin menyelesaikan semua tugas kuliah tepat waktu sementara aku lebih senang menundanya. Itu semua tak pernah urung membuat kamu menjadi salah satu teman diskusi yang sangat baik, Mak!
Aku sangat senang berdiskusi hingga berdebat banyak hal dengan kamu, soal agama, ibadah, hingga buku. Meski itu adalah hal yang banyak teman – teman kelas kita hindari dari kamu. Teman – teman sekelas kita memang payah atau kemampuan diskusi mereka yang memang tidak pernah sekelas denganmu. Jujur saja, berdiskusi atau berdebat dengan kamu ujungnya selalu membuahkan hasil buatku. Kamu pendengar dan orang yang tidak pelit untuk beradu argument. Setidaknya aku berbagi soal satu hal dengan orang lain yang akhirnya menimbulkan sudut pandang lain. Itu bagus menurutku, membuatku punya pendapat tambahan ketika hendak membuat keputusan.
Aku suka caramu memberikan pendapat hingga nasihat buat teman – teman yang kadang tersesat. Meski pada akhirnya terkadang jadi memaksa mereka melakukan apa yang kamu katakan, dan marah ketika mereka tidak menerima masukan yang kamu berikan. Hahaha.. itu bukan kebiasaan buruk, Mak! Tenang saja, memberi nasihat itu baik kok. Hanya caranya yang harus diperhalus.
Meski kata teman – teman sekelas kamu menyebalkan, buat ku tidak kok. Kamu selalu mau ketika dimintai bantuan, ketika malam – malam aku meminta soft copy semua materi kuliah, numpang transfer uang mingguan dari rumah lewat atm kamu lah, atau selalu mau meminjamkan uang ketika uang mingguan itu kuotanya habis sebelum tiba awal minggu berikutnya.
Kamu itu menyenangkan, meski tidak pernah mau keliatan mukanya ketika di foto. Meski selalu marah – marah ketika diam – diam aku atau teman yang lainnya mengambil gambarmu. Ya betul kamu dengan prinsip yang kamu pegang kuat – kuat itu begitu mengagumkan. (meski tidak pernah ada penjelasan logis kenapa orang tidak mau difoto, bagi orang yang kecanduan selfie sepertiku). Hingga akhirnya, hijab besar yang kamu gunakan untuk menutupi kodrat dan hidupmu yang menjadi penutup kekagumanku sebagai seorang sahabat.
Aku sangat yakin, bahwa perempuan baik – baik pasti akan berjodoh dengan pria baik – baik pula. Seperti Siti Hawa untuk Nabi Adam, atau Siti Aisyah untuk Rasullah SAW atau seperti putrinya Siti Fatimah Azahra untuk Khalifah Ali suaminya. Aku yakin, kamu juga seperti itu. Mungkin untuk lelaki seperti Dia, jodoh yang kamu ributkan di status BBM mu belakangan ini. Hehehe.. kapan mau dikenalkan? Bisa kok nanti kita jalan bareng, mungkin sambil nonton atau sambil berburu buku lagi.
Salam, Sesama pejuang ujung tombak dunia kesehatan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar