Dear, my (beloved) older sister, i’ll stand by you.
Sore kak, aku tahu kau saat ini jauh dan kita tidak sedang bisa bertatap muka. Makanya sengaja aku tulis ini, begitu ku cari – cari dalam kepala siapa yang mungkin saat ini paling butuh dukunganku, entah kenapa begitu saja aku langsung ingat dirimu. Sosok tuan putri dan panglima perang di keluarga kita.
Aku yakin orang akan mengerutkan kening ketika sosok yang ku sebut panglima perang malah membutuhkan dukungan. Percayalah sisi dari diriku yang lainpun melakukan hal yang sama, bagaimana mungkin orang yang selama ini mengajariku berjuang melawan hidup yang keras, yang memberiku banyak perkakas dalam menaklukan setiap tantangan yang tuhan beri, malah menjadi orang yang ku rasakan sangat butuh dukungan.
Tidak, aku hanya sedang melihatmu dari sisi yang lain, Tuan Putri. Tidakkah kau merasa bahwa usiamu hampir memasuki waktu tengah malam? Bagaimana bisa kau terus merasa baik – baik saja sendirian? Aku tak ingin bicara cinta dengan membayangkanmu, bagai seekor burung dara yang tengah kasmaran. Aku tahu, masa itu telah lama lewat dari alur pubertasmu. Tidak inginkah kau melihat ilalang di depan rumah bergoyang dengan dua, tiga, anakmu berkejaran?
Aku tahu, bahwa gagalmu di masa lalu bisa saja kau jadikan tameng pertahanan untuk segala ‘baik – baik sajamu sendirian’ selama ini. Tapi matamu tidak pernah bisa lari dariku, orang yang telah mengenal baik setiap sorot cahaya kehidupan yang keluar dari sana. Bukannya itu juga yang jadi kapas untuk menutup kedua telingamu, menghadapi diskusi sok tahu orang soal makin panjangnya masa lajangmu? Sekali lagi, kau tidak akan bisa membohongiku.
Begini kak, aku tak pernah menuntut kejujuran atau pengakuan untuk cinta yang muncul dari sudut pandang lain di matamu. Kau begitu berhak pada bahagia yang kau yakini, namun karena kau tidak pernah membicarakannya denganku, jadinya kau juga tidak punya juru bicara melawan dunia yang kian hari kian panas membahas soal kau yang tak malu akan usia dan terus menghabiskan waktu sendirian.
Sebagai orang yang pernah bergantian rahim denganmu sebelum akhirnya menginjakkan kaki di dunia, aku tidak mungkin menuntutmu akan hal yang selama ini orang – orang itu juga bicarakan. Sebagai adik, yang ingin melihat kakak perempuannya bahagia, aku hanya ingin kau bahagia. Tentu saja dengan caramu sendiri, dalam hal ini kau mendapatkan dukungan penuh dariku.
Tidak ada orang yang bisa baik – baik saja sendirian selamanya, suatu saat kau akan butuh orang yang mendengar keluhmu, memijat bahu lelahmu, atau menampung semua khayalmu soal cita – cita berkeliling dunia. Tentu saja, semua itu tak hanya bisa dihabiskan denganku atau ibu yang memang keluargamu, sebagai manusia kita akan butuh manusia lain (yang tidak berasal dari keluarga) untuk diajak berbagi cerita.
Aku tau, di suatu tempat di dunia ini, pasti kau tengah jatuh cinta, kau hanya menyembunyikannya dari kami semua. Jujur saja, aku kadang muak kak pada cinta yang tak bisa diperjuangkan. Larilah, kejar cinta dan citamu, selagi ada waktu. Dunia saat ini, adalah dunia yang lebih bisa menerima manusia apa adanya. Orang di desa tetaplah desa, yang membutuhkan penyuluhan mendalam soal gen yang berbeda. Pergilah, jemput semua asa dan bahagiamu, wujudkan semua ingin dan rencana sesuai dengan yang ada di kepalamu. Kau sangat berhak atas bahagia seperti apapun. Tenanglah, untuk menghadapi mulut dari orang yang tidak tahu apa – apa, yang menganggap bahwa cinta itu selalu soal yang itu – itu saja, yang berpikir bahwa ‘jadi berbeda’ itu sebuah hal yang gila. Ada aku...
Ada aku yang akan menghadapi tajam bibir dan buruknya persangka mereka satu persatu. Tidak ada yang salah dengan cinta, hanya kadang orang butuh waktu untuk mencerna kebenarannya. Aku yang akan berdiri menghadapi mereka semua, untuk menjelaskan meski kau punya cara berbeda, kau masih bisa bahagia.
Ttd.
Adikmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar