Untuk laki – laki yang katanya penikmat hujan...
Yakin kau benar – benar menyukai hujan? Sepanjang mengenalmu, kau malah sering mengeluh ketika empat menit menjelang guru membiarkanmu memimpin doa sebelum pulang, tiba – tiba limpahan air dari langit itu turun begitu deras. Kemudian di depan teman – temanmu yang sama kelaparannya, kau rapalkan seisi penghuni kebun binatang. Bukan, karena tidak ada bus atau angkutan perdesaan bukan? Tapi itu karena uang sakumu habis oleh kang bakwan, dan kau harus berjalan kaki sampai rumah dengan berbasah – basahan. kau hanya menyukai bagian dari tetes air yang tak sengaja jatuh dan terperangkap di jendela. Lalu ia yang dibantu okisgen dan gaya gesek yang menimbulkan panas mentes pelan – pelan membuat goresan syahdu dan membuat tatap matamu nanar hingga berkabut. Dari sana, biasanya jari – jarimu lincah menari salsa di atas berbagai jenis kertas, menulis semua puisi atau cerita pendekmu seperti biasa.
Ah benar, kau dulu pernah begitu percaya diri di depan guru bahasa indonesia SMP mu dan mengacungkan penamu tinggi – tinggi, bilang kalau kemampuan menulismu di atas rata – rata. Lalu, dengan pongahnya kau tinggalkan masa SMA kau melarikan diri ke kota dan meninggalkan semua kertas – kertas berisi puisimu sendirian di desa. Lama sekali, kau mengabaikan dunia yang pernah menghiasi malam atau menemanimu bergadang di surau ketika kebetulan kau kena jaga ronda. Kau berkilah, bahwa kesibukan baru di tempatmu menuntut ilmu dan jenjang baru sekolah-sekolahan mu itu, membuatmu tak punya banyak waktu untuk datang berkunjung ke pacar –puisi- lama mu itu. Sampai seorang dosenmu memberi tugas informatika, kau pun diperkenalkannya dengan blog, juga semua benda dari dunia maya. Kertas – kertas lamamu, patah hati lagi. Kau kemudian disibukan dengan mengintip banyak blog orang lain, lalu baju kepercayaanmu pada kemampuanmu menulis dan keinginan mengumpulkan semuanya menjadi sebuah buku, luntur satu persatu. Dan dalam waktu yang lama sekali, baik kertas, dus bekas rokok, tak pernah kau cumbu lagi dengan pena di tanganmu.
Kau ingat, pertemuanmu dengan pengajar mata kuliah bahasa Indonesia baru di kampusmu? sebelumnya kau dan teman – teman sekelasmu disuruh membuat sebuah teks roleplay yang memperagakan adegan pasien yang hendak diintubasi lehernya oleh tenaga medis. Waktu itu hanya kelompokmu yang mengumpulkannya. Itu karena di sana ada dirimu. Lalu ketika dosenmu memuji dengan nilai A teks drama yang kau buat, kau mengelak, bahwa itu hanya teks drama biasa dan masih banyak orang yang bisa lebih baik melakukannya. Untuk kesekian kalinya, kau menutup telinga, ketika banyak mata bicara pada sesuatu bernama bakat yang kau punya.
Lalu, kenalan – kenalanmu berikutnya, facebook, twitter, tumblr, semakin membuat percaya dirimu pada menulis cacat bahkan lumpuh total. Kau terlalu disilaukan oleh mereka yang lebih dulu mengenalnya, dan lebih dulu membangkitkan percaya dirinya. Sementara kau makin tenggelam dalam kebiasaan buruk, meng-copy paste dari seleb tweet yang bahkan tak pernah memperdulikan keberadaanmu. Kau tidak pernah belajar apa? orang yang meniru tidak pernah dapat apa – apa, selain nilai palsunya.
Tapi, empat belas hari lalu, kau berkenalan dengan seorang boss, kepala kantor pos dunia maya tepatnya. Di kesempatan itu, ia juga memperkenalkan seorang tukang pos cantik padamu, yang jika kau menulis surat cinta untuk siapapun ia pasti akan menyampaikannya. Untuk pertama kalinya, kau menatap lagi layar polos di komputer tuamu, masih dalam suasana berkabung karena patah hatimu lah yang membuat kesepuluh jarimu bekerja sendiri, menulis setiap kata marah, kecewa, sedih di sana. Kau kehilangan begitu dalam, lalu kau putuskan menulis sebuah surat dengan harapan semoga saja dia yang sudah membuat kekacauan di hatimu mendapatkan hidayah agar mau membacanya. Beberapa detik sebelum kau menekan tombol post di blog usang yang sudah dipenuhi sarang laba – laba itu, kau kembali ragu. Samar, namun dapat ku dengar “ada orang yang mau baca gak, ya?” tanyamu pada diri sendiri. Sungguh, aku ingin memukul kepalamu dengan batu yang paling besar saat itu juga.
Kau kaget sendiri bukan ketika melihat betapa banyak orang yang mengunjungi blogmu akhirnya? Bahkan dengan konyolnya kau mentertawakan diri sendiri, sambil terpingkal – pingkal kau merasa tak habis pikir bagaimana mungkin tulisan cengeng itu banyak yang baca. Aku bahkan menyayangkan, kau baru sadar kau bisa menulis, kau baru menulis lagi ketika kau patah hati. Tau begini, aku akan mendoakanmu semakin sering patah hati.
Tulis saja, tulis apapun yang keluar dari tiap batang ide yang ada di kepalamu. Seperti dulu, bahwa kau menulis karena kau senang menulis, bukan karena orang agar mau membacanya. Ah, aku jatuh cinta sekali padamu yang lantang mengkampanyekan prinsip itu. Bukannya kau merindukan juga, suasana ketika kau diam – diam menyingkir dari keramaian, lalu duduk sendirian di bawah pohon paling rindang, di dekat kolam nenekmu yang pelit itu? Di sana biasanya kau habiskan waktu berjam – jam bercumbu dengan kami. Puisi – puisi lamamu, Tuan.
Salam, kami selalu merindukanmu.
NB: kalau ada waktu, sempatkanlah pulang ke rumah ibumu di desa, kami setidaknya butuh tempat baru. Ibumu meletakan kami di kolong lemari tuanya, di sini lembab dan berdebu, selain itu populasi dan tingkat kelahiran tikus meningkat tajam belakangan ini.
Aku sangat mengagumi rindu :)
BalasHapus