Kamis, 26 Februari 2015
Untuk Mantan Kekasih Ibuku
Rabu, 25 Februari 2015
Mesin Waktu
mungkin ini terdengar agak gila, entah bagaimana bisa muncul ide begitu saja di sudut kepala menulis surat untuk kalian. padahal kita belum bahkan tidak pernah bertemu, hanya saja aku punya keyakinan bahwa suatu hari akan membaca surat ini bersama kalian, melingkar duduk di sofa malas di ruang keluarga kita. yang harus kalian tahu, bahwa tulisan adalah satu - satunya mesin waktu yang bisa membawa utuh masa sekarang menuju masa depan yang tidak pernah kita pikirkan.
baiklah, aku akan mulai bercerita sekarang pukul tiga lewat delapan belas menit, sore hari. tanggal dua puluh lima februari dua ribu lima belas. aku sedang tugas jaga sore di sebuah puskesmas, yang nanti jika aku benar - benar bertemu kalian akan aku ceritakan bagaimana gilanya suasana di sini. cuaca hari ini benar - benar membuatku harus melepas seragam ketika menuliskan surat ini untuk kalian. lucunya malah turun hujan, bukan mendinginkan suasana. hanya menambah kegilaan di sini jadi seperti neraka.
terserah mungkin kalian bisa menebakku sebagai orang yang sangar lewat tulisan di surat ini, tapi percayalah aku berharap dengan segala sisi kelembutan yang ku punya:
kepada seseorang yang akan aku nikahi, tak peduli kau perempuan atau laki - laki. jujur saja, aku bukan tipe orang yang memisahkan hitam dan putih sendiri - sendiri. aku memoleskan banyak warna untuk duniaku, dunia yang suatu hari akan menyatukan cinta tidak berdasarkan alat kelamin saja. tidak berdasarkan berapa banyak uang yang kau punya, bukan juga pernikahan yang dilandasi rasa takut kesepian menghadapi sisa hidup sendirian.
aku benar - benar tak sabar, suatu hari kita akan menceritakan lagi bagaimana awalnya kita bertemu, berkenalan, mulai menatap kehidupan masa depan di mata masing - masing. hingga mulai percaya, bahwa kau memang yang dipersiapkan untukku, juga aku yang akan jadi pendamping seluruh sisa nafas hingga matimu. bahkan pada hidup setelah kematianmu itu.
percayalah bahkan jauh dari waktu sebelum kita bertemu aku sudah sangat mencintaimu, aku yakin bahwa di masa ini baik kau atau aku kita sedang sama - sama memperbaiki diri sebelum akhirnya saling bertemu dan menjadi pelengkap bagi segala hal yang masih kurang pada diri masing - masing. bagiku hal itu sungguh manusiawi sekali sayangku, menunjukan bahwa kau betul - betul manusia yang utuh. sebesar apapun usaha yang telah kita lakukan, tidak perlu kecewa akan hasil yang kita dapatkan. suatu saat, mungkin apa yang ku dapat adalah untuk melengkapi yang kau punya. begitu pun sebaliknya, semua yang kau peroleh hari ini, bisa menjadi kaki ketiga dan keempat yang membantuku berjalan hingga berlari.
untuk dua atau tiga anak lelakiku, baik yang lahir dari rahim sendiri atau yang kami adopsi. tidak usah khawatir, jika di antara kalian saat ini hadir seorang tuan putri. aku tidak akan membedakan rasa sayang untukmu, Nak. baiklah, jujur ini pertama kali terbesit di pikiran bahwa suatu hari aku akan punya anak. kalian. saat ini usia ku dua - dua, jadi di dalam pikiranku aku tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya punya keturunan. walau aku sering bermain - main dengan keponakanku -sepupu sepupu kalian- aku tak pernah membayangkan bagaimana jika suatu saat aku akan bermain dengan anak ku sendiri.
oh iya, ketika membacakan surat ini pada kalian, aku sudah jadi tipe ayah yang bagaimana? menyenangkan? menyebalkan? atau malah seperti ayah - ayah lainnya yang karena kesibukannya malah melupakan anak - anaknya.
aku hanya berharap, suatu hari bahwa aku akan jadi seorang ayah yang menggendong anak- anaknya satu persatu ketika subuh tiba untuk mengajaknya solat berjamaah. membuatkan sarapan, juga bekal makan siang untuk kalian makan di sekolah. mengantar dan menjemput kalian satu persatu, karena aku begitu khawatir dengan keselamatan kalian, jika bukan aku yang menjaganya. selepas maghrib, aku akan memerahai kalian jika lebih asyik menonton televisi dibanding belajar ngaji. mungkin dengan catatan, di masa itu belum ada tekhnologi yang menggantikan televisi.
menjelang waktu tidur, aku akan mengantarkan kalian satu persatu ke kamar baik dengan kalimat perintah atau dengan dongeng-dongeng yang bisa ku karang dalam sekejap. banyak kok hal konyol dalam hidup yang bisa kita ceritakan. atau maukah kalian mendengar cerita soal banyaknya mantan - mantan pacar ayah selama kuliah?
aku akan mengecek lagi, barang dua atau tiga puluh menit setelah kalian lelap. apakah lampu sudah dimatikan, jendela sudah dikunci, hingga pekerjaan rumah kalian, sudah sempurna atau ada yag harus diperbaiki. yakinlah, semua itu akan jadi lebih penting bagiku dari pada pekerjaan atau kesibukan lain yang mungkin saat itu sedang ku jalani.
itu hanya harapanku saja, keluargaku. jika di saat membaca surat ini, aku tidak sama sekali mencerminkan semua yang aku bacakan di sini. tolong tegur aku, bahwa sebagai orang dengan luka yang berat, aku pun pernah punya harapan yang besar untuk bahagia.
pasti, aku akan sangat menyayangi kalian. selalu.
Selasa, 24 Februari 2015
No tame ni Kagome!
Hai, Kagome! Tapi Kagome kok kena DBD? Jangan berkilah karena kamu manusia, itu benar-benar sebuah alasan yang tidak bisa diterima. Kamu itu perawat, bagaimana bisa perawat merawat pasiennya dengan benar jika perawatnya saja abai sama kesehatan sendiri. --"
Jangan salah faham, aku tidak meragukan kemampuan kamu dalam merawat pasien. Aku kenal betul siapa temanku, dia pasti memberikan yang terbaik untuk setiap pasien yang datang kepadanya. Tapi aku juga tahu, kamu itu kadang selalu lupa pada dirimu sendiri. Lupa makan teratur, lupa olah raga, lupa kalau jam kerjamu sudah lama lewat beberapa jam karena kelewatan asyik hilir mudik dengan semua pasien-pasien itu. Hingga akhirnya sekarang virus itu menyerang bukan? Tolonglah, jangan selalu menuduh semena-mena sama makhluk tak kasat mata itu, jelas kamu kecape-an akibat ulahmu sendiri yang terlalu cinta pada pekerjaan. Duh yen, gimana mau sayang sama orang kalau sama diri sendiri aja nggak?
Hehehe
Yang keluar masuk di hatimu kan gak sedikit, walau juga gak terlalu banyak. Itu setauku ya! Dan setauku juga bagai seorang putri kamu selalu menantikan kedatangan seorang pangeran berkuda putih yang menjemput kemudian membahagiakanmu. Aku selalu tahu dari kedua mata kamu yang lincah menari-nari setiap kali menceritakan lelaki yang sedang dekat denganmu. Aku selalu turut berbahagia, Kagomeku! Mengingat dulu, sebuah kekacauan pernah ku lakukan ketika kamu sedang dekat dengan seseorang. percayalah, apapun yang ku lakukan waktu itu semata-mata untuk menjagamu dari luka berbahaya di kemudian hari.
Tapi itu sudah lama lewatkan, ya? Sudah bukan musimnya kita membicarakan kekonyolan di masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan kamu ke depannya, jangan sampai salah pilih lagi. Tapi juga tidak harus terlalu berhati-hati juga, karena kejadian salah pilih selalu diakibatkan oleh asal-asalan memilih atau justru karena terlalu berhati-hati.
Sudahlah, aku yakin kamu pasti tidak mau aku ikut campur lagi dengan urusan cintamu itu, karena aku juga yakin bahwa inuyasha mu yang tepat suatu saat akan membuatkan istana sendiri untuk kebahagiaanmu.
Aku hanya ingin berterimakasih, Yen. Selama ini sudah menjadi pendengar yang baik, tempat menyimpan rahasia paling aman. Tempat untuk aku tak takut sama sekali menjadi diriku sendiri, terimakasih untuk bahu tempat bersandar atau dada yang lapang yang sering ku jadikan sasaran tempat meledek dan kamu tak pernah merasa tersinggung sama sekali.
Kamu yang selalu sabar dengan semua kekurangan, bahkan salahnya pilihan yang ku ambil. Kami yang selalu mengingatkan agar aku segera pulih dari ketersesatanku yang ku pilih. Terimakasih, karena sudah jadi sahabat sebaik itu.
Terimakasih, karena selalu bersedia menjadi tempat pulang ketika aku berlari terlalu jauh dan kemalaman.
Peluk dan cium
Naraku. :)
PS: lekas sembuh ya Kagome! Ingat, di dunia nyata ini cuma ada obat dan istirahat total yang bisa menyembuhkan penyakit kamu sekarang. Bukan pecahan bola empat arwah!
Senin, 23 Februari 2015
Hai Hijabers!
Untuk Hijaber terbaik yang ku kenal; Risma Erlina Suryani
(dengan segala perjuangannya jauh di pedalaman Banten sana)
Aku rindu Emak! Hahahah... meski aku tidak ingat bagaimana awalnya nama Risma bisa berubah disapa jadi Emak, itu sepertinya ulah si yeni dan teman – teman yang lain ya! tapi aku selalu ingat kok Mak bagaimana kita pertama bertemu. Waktu itu hari pertama seluruh mahasiswa baru dikumpulkan di kampus, kita sama – sama berada di kelompok lima meski kamu jadi yang terakhir bergabung. Aku ingat kamu yang berjalan ke sana ke sini menghampiri setiap kelompok yang berkumpul dan bertanya “kelompok lima, bukan?” lalu saat bertanya padaku, ya betul ini kelompok lima. Sepertinya dari sana lah persahabatan kita dimulai.
Setelah Ospek selesai, ternyata kita satu jurusan! Satu kelas malah. Lalu masa sulit selama kuliah itu kita lewati berlima, bersama si yeni, si fufa, si silvi juga. (jangan bilang-bilang sama mereka soal surat ini, takut mereka minta dibuatkan jatah mereka juga) sampai saat ini kita telah mengabdi di ladang bakti masing – masing, entah bagaimana awalnya kita jadi merasa dekat satu sama lain, sampai muka kita berlima muncul di dalam gelas yang si yeni buat.
Semua itu sungguhlah layak, karena kita memang sahabat. Walau sahabatku memang banyak... hampir setiap kali masuk sekolah, aku pasti punya lagi sahabat – sahabat baru. Hehehe.. berteman dengan banyak orang memang menyenangkan sih, walau aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Yang mungkin kalian tidak tahu, dibalik sikap yang petakilan, penindas, atau jauh lebih cengeng dari anak kecil, aku tetap manusia penyendiri. Yang anehnya, aku yakin kamu tahu soal itu, walau entah bagaimana bisa aku berpikir begitu.
Maaf sebelumnya kalau harus menuliskan ini, aku bisa berpikir begitu jangan – jangan karena kita memiliki banyak kesamaan. Kita sama – sama memiliki seorang kakak yang sangat kita sayangi, kita sama – sama dibesarkan seorang perempuan bernama ibu sendirian. Yang itu berarti kita juga sama – sama kehilangan sesosok lelaki yang teramat dicintai bernama bapak. Walau jenis kelamin kita berbeda, walau kamu lebih rajin solatnya dan aku masih bolong sana sini. Walau kamu begitu rajin menyelesaikan semua tugas kuliah tepat waktu sementara aku lebih senang menundanya. Itu semua tak pernah urung membuat kamu menjadi salah satu teman diskusi yang sangat baik, Mak!
Aku sangat senang berdiskusi hingga berdebat banyak hal dengan kamu, soal agama, ibadah, hingga buku. Meski itu adalah hal yang banyak teman – teman kelas kita hindari dari kamu. Teman – teman sekelas kita memang payah atau kemampuan diskusi mereka yang memang tidak pernah sekelas denganmu. Jujur saja, berdiskusi atau berdebat dengan kamu ujungnya selalu membuahkan hasil buatku. Kamu pendengar dan orang yang tidak pelit untuk beradu argument. Setidaknya aku berbagi soal satu hal dengan orang lain yang akhirnya menimbulkan sudut pandang lain. Itu bagus menurutku, membuatku punya pendapat tambahan ketika hendak membuat keputusan.
Aku suka caramu memberikan pendapat hingga nasihat buat teman – teman yang kadang tersesat. Meski pada akhirnya terkadang jadi memaksa mereka melakukan apa yang kamu katakan, dan marah ketika mereka tidak menerima masukan yang kamu berikan. Hahaha.. itu bukan kebiasaan buruk, Mak! Tenang saja, memberi nasihat itu baik kok. Hanya caranya yang harus diperhalus.
Meski kata teman – teman sekelas kamu menyebalkan, buat ku tidak kok. Kamu selalu mau ketika dimintai bantuan, ketika malam – malam aku meminta soft copy semua materi kuliah, numpang transfer uang mingguan dari rumah lewat atm kamu lah, atau selalu mau meminjamkan uang ketika uang mingguan itu kuotanya habis sebelum tiba awal minggu berikutnya.
Kamu itu menyenangkan, meski tidak pernah mau keliatan mukanya ketika di foto. Meski selalu marah – marah ketika diam – diam aku atau teman yang lainnya mengambil gambarmu. Ya betul kamu dengan prinsip yang kamu pegang kuat – kuat itu begitu mengagumkan. (meski tidak pernah ada penjelasan logis kenapa orang tidak mau difoto, bagi orang yang kecanduan selfie sepertiku). Hingga akhirnya, hijab besar yang kamu gunakan untuk menutupi kodrat dan hidupmu yang menjadi penutup kekagumanku sebagai seorang sahabat.
Aku sangat yakin, bahwa perempuan baik – baik pasti akan berjodoh dengan pria baik – baik pula. Seperti Siti Hawa untuk Nabi Adam, atau Siti Aisyah untuk Rasullah SAW atau seperti putrinya Siti Fatimah Azahra untuk Khalifah Ali suaminya. Aku yakin, kamu juga seperti itu. Mungkin untuk lelaki seperti Dia, jodoh yang kamu ributkan di status BBM mu belakangan ini. Hehehe.. kapan mau dikenalkan? Bisa kok nanti kita jalan bareng, mungkin sambil nonton atau sambil berburu buku lagi.
Salam, Sesama pejuang ujung tombak dunia kesehatan Indonesia.
Minggu, 22 Februari 2015
Aku Rindu Kalian
Hal pertama yang akan kalian dapati ketika membaca surat ini adalah sumpah serapahku, marah karena kalian tidak pernah mau membuat akun twitter. Sehingga aku tidak bisa memberikan alamat tujuan kepada tukang posku ketika mengantarkan surat ini. Blog? Oh, ketika pertama kali membuatnya kalian malah mentertawakanku. “jadi duit gak?”Kalau saja bukan kalian yang menanyakan itu, sudah aku habisi kalian satu persatu. itu pertanyaan yang sampai sekarang masih mengangguku, ya aku juga sedang berpikir bagaimana mendapatkan uang dari sini. Lalu mentraktir kalian makan sampai mati kekenyangan.
Apa kabar kalian semua? Sudah sejauh mana mimpi – mimpi masa remaja terwujud hari ini? Masih ingat tidak, bagaimana dulu kita berlomba memancang tali paling kuat untuk cita – cita masing – masing. Hingga kini mimpi pulalah yang akhirnya membawa kita pergi dan memperlebar jarak di antara kita. Ah, maaf jika aku hanya menulis satu surat ini untuk kalian bertujuh. Salah kalian (termasuk aku) dulu berkumpul dan memutuskan membuat organisasi tak resmi ini dengan banyak anggota, atau salah waktu? Mempertemukan kita dengan cara menyatukan delapan paru – paru berbeda menjadi satu nafas dengan udara yang sama: persahabatan.
Pertanyaanku di awal surat tak usah kalian dengarkan. Dari dulu, persahabatan kita tak pernah dibuat untuk saling menginjak kepala satu sama lain. Aku ingat bagaimana kita menaklukan satu persatu semua organisasi resmi dan setiap perkumpulan bawah tanah sekolah. Semua itu kini jadi bekal dan senjata paling kuat untuk menaklukan semua tantangan dan perisa pahit yang terjadi dalam hidup.
Tau tidak, di antara pasien yang terus datang setiap menit, tumpukan pekerjaan, ditambah nyeri patah hati, aku merindukan kalian. Merindukan kebersamaan kita, bagai waktu dulu. Tak peduli Pekerjaan Rumah yang harus dikumpulkan esok hari, mengerikannya ulangan ekonomi dan akuntansi, atau makan malam yang hanya ditemani secangkir kopi dan ikan teri, asal masih bersama – sama semua kesulitan jadi tidak ada gunanya. Jujur saja, saat ini aku tengah butuh pundak atau senda gurau kalian, biar jadi hiburan bagi masalah yang terus saja datang, tak mau dihabiskan.
Setidaknya aku butuh kalian sebagai otak yang tetap waras ketika aku hampir gila akibat nyeri patah hati dan pahitnya ditinggalkan tanpa alasan. Aku butuh tangan yang tinggi – tinggi mengepalkan tinjunya demi memberi semangat lagi, ketika batas kuatku hampir menyerah karena tak lagi percaya bahwa suatu hari aku bisa bahagia. Aku butuh senyum yang selalu berevolusi jadi tawa terbahak – bahak itu, yang mengusir segala gundah menjadi lelucon yang tak sudah – sudah. Saat ini, aku benar – benar butuh kalian.
Maaf... jika rindu pada kalian baru bisa tumbuh begitu aku mendapatkan kesulitan, itu semua karena aku tahu bahwa sahabat – sahabatku hanya akan menyediakan peluk, bukan pemikiran seperti itu ketika aku merasa kesulitan. Aku tahu bahwa kalian akan tetap menggeser duduk kalian, demi menyediakan tempat kosong satu lagi untuk ku, kemudian mulai mendengarkan semua yang ku ceritakan. Aku tahu, bahwa sahabat – sahabatku selalu mampu meluangkan waktunya untukku. Aku sangat tahu itu...
Aku jadi ingat ucapan seorang perempuan yang menamakan akun instagramnya @iitsibarani dia pernah berkata bahwa sahabat ialah mereka yang tahu kapan memfungsikan lidah dan telinga dengan sempurna; mereka yang tetap ada meski pilihanmu terkadang salah, mereka yang tak ingin apa-apa selain melihatmu bahagia, mereka yang akan selalu ikut mentertawakan masalahmu, masa lalu dan bukan di belakangmu. Dan hasil perkerjaan kalian, selalu sempurna ketika melakukan itu semua.
Akhir kata, maukah mengatur waktu untuk sebuah temu? Reuni kecil – kecilan seperti biasa, tolong kosongkan jadwal pada satu tanggal di bulan depan. Sungguh, aku rindu menghabiskan malam dengan secangkir kopi dan ikan teri bersama kalian.
Sabtu, 21 Februari 2015
Bukan Pasar Malam
Kau tau betapa bengalnya dirimu? Apalagi dalam perkara jatuh cinta. Kenapa begitu mudahnya untuk jatuh padahal kau tau hancurnyapun pasti kau dapat seketika. Kenapa tidak pernah belajar dari yang sudah-sudah? Ingat yang kau abaikan itu perasaan orang, bukan hanya sekedar bulu hidungmu yang kian hari makin panjang.
Tidak salah memang, ketika hati merasa tidak bertaut pada tempatnya. Seperti katamu bahwa setiap pencarian tidak selalu berujung menemukan. Kepalamu sudah faham betul soal itu, tapi tak baik jika mengajak terbang hati orang hanya untuk dihempaskan. Cinta bukan mainan.
Mengapa hobimu begitu mengesalkan? Senang mengoleksi dan mengumpulkan luka, ketika borok yang lalupun belum kering betul kau malah sengaja menusuk kaki dengan paku dari kecewa pada pencarian yang bukan kau inginkan. Tunggulah sejenak, tidak ada salahnya bersabar. Bukannya, urusanmu yang lain pun belum selesai benar?
Seperti kata Pram, hidup bukan pasar malam dan kita tak akan selalu beramai-ramai. Ada kalanya kita perlu mengeja baik-baik apa yang terjadi, benahi dirimu sebelum bertemu dengan dia -orang yang tepat bagimu- sehingga ketika kalian bertemu, kalian telah sama-sama menjadi orang yang lebih baik.
Semua yang terlihat oleh mata akan selalu terlihat mengkilat, bahkan beberapa di antaranya begitu berkilauan. Walau kau dapat memilikinya, jika suatu saat hanya akan kau singkarkan lagi buat apa? Menambah panjang deret dari kesalahan yang sama? Bahkan Adam saja harus menunggu lama, sebelum Hawa tiba sebagai pasangan yang tepat untuknya.
Bawa kompromi otakmu, jangan selalu menuruti rasa takut kesepian dan sendirian. Bahkan di luar sana banyak orang yang sedang merindukan masa-masa sendiriannya. Kasihan hatimu, jika kau pikir bahwa obat untuk nyeri karena patah hati adalah dengan jatuh cinta lagi, mau sampai kapan menipu diri seperti itu? Kau sendiri juga tahu, bahwa terlalu banyak memakan obat itu bagai meracuni organ hati mu pelan-pelan. Begitu juga yang akan ia derita ketika kau memaksanya untuk jatuh cinta kesekian kalinya.
Kau akan kaget sendiri ketika nanti bertemu dengan dia yang tepat bagimu, sadarkah orang di depan cermin itu begitu sangat merindukanmu? Tawa lepasmu? Atau suara lantang berteriak di tengah keramaian? Ketika kau merasa hidup kian sepi dan sulit, ada yang begitu merindukanmu begitu dalam: dirimu sendiri.
Aku.
Jumat, 20 Februari 2015
Setengah Hati
Sukabumi, 20 februari 2015. Di antara udara dingin dan kulkas sebesar kota, aku mengingatmu.
Kau tahu, bahwa bunga tidak berpasangan dengan lalat dan kupu-kupu tidak pernah menghinggapi bangkai. Kau juga tahu bahwa pesawat terbang tidak dikendarai seorang masinis, atau kapal laut tidak dikendalikan seorang kusir. Jika harus ku buatkan alasan, kira-kita begitulah apabila kita melanjutkan langkah-langkah kita berdua selanjutnya.
Aku tahu, bisa jadi kali ini aku menjelma menjadi laki-laki berengsek yang pernah kau temui. Pernah mengejarmu mati-matian lalu kini ku abaikan. Pernah meminta hatimu dengan sangat, tapi kini malah bersikap lebih dari bangsat. Tidak apa, maki aku sekeras apapun. Itu terdengar lebih baik dari pada mendengar tangismu memecah senyap yang mulai menyelimuti kita berdua.
Kita tidak mungkin bisa bersama, ini tidak hanya soal bahwa hatiku telah tertinggal banyak di masa lalu. Kau juga tahu bahwa aku masih dalam upaya mengumpulkan tenaga yang berceceran agar mampu lagi percaya bahwa cinta sejati itu mungkin ada. Bukan sebatas itu saja, hanya apa yang ku cari di senyummu, tidak ku temukan. Ku kira sebelumnya di hatimu aku akan berumah, namun akhirnya aku tahu bahwa aku tidak akan pernah pulang ke sana.
Maafkan, bagiku lebih baik begini, menghentikan langkah kita berdua di sini. Sebelum aku membawamu makin jauh, alih-alih mengajakmu mendayung perahu yang menurutmu akan dibawa ke tujuan tapi malah aku tenggelamkan di perjalanan, tidak baik sama sekali.
Jika kau tetap memaksa, perahu itu mungkin akan tetap ku kayuh tapi bukan dengan kerelaan membahagiakanmu tapi hanya sebatas menghargai, menjaga persaanmu yang tetap memilih bertahan agar tak cepat tenggelam. Memberimu hanya setengah bagian dari hati yang cuma berwujud rasa kasihan, terdengar lebih mengerikan dari perpisahan ini bukan?
Gulung lagi air mata dan rasa sesalmu, kita akan sama-sama belajar bahwa tak semua pencarian berujung menemukan, kita tak bisa begitu saja percaya diri begitu pertama kali bertemu sudah saling merasa mendapatkan cinta sejati. Lipat lagi kesedihan dan segala dendam, mari sama-sama lanjutkan perjalanan semakin sering mencari bukannya peluang untuk menemukan juga semakin besar?
Sampai bertemu lagi di suatu waktu, mungkin saat itu kita akan sama-sama tersenyum mengingat betapa konyolnya kerbersamaan kita beberapa hari ini.
Ttd.
Lastrange
Kamis, 19 Februari 2015
Bonus Gathering Bosse
Untuk bosse poscinta.com di kantor pos pusat. Aku bingung....
Bosse, sebenarnya Bandung selalu jadi list dalam cita-cita sebagai tempat untuk jatuh cinta. Apalagi ditambah iming-iming bonus dapat jodoh dari gathering yang bosse selenggarakan. Tapi aku bingung bos, ini tak hanya soal jarak, tidak juga kesibukan atau tek tek bengek yang mengikutinya. Ini soal aku merasa agak risih jika datang sendirian, apalagi ini tahun pertamaku mengikuti #30HariMenulisSuratCinta ini, sudah pasti aku jadi yang bengong-bengong sendirian di sana.
Bahkan form yang bosse berikan semalam juga kadang aku tatap lama tanpa mengisinya sebelum, ku tekan lagi tombol close tab.
Ahh bosse, maaf jika aku tak seantusias yang lain. Maaf juga jika aku tak pandai membuat alasan, sehingga kau juga pasti tahu bahwa aku sangat ingin datang! Berkumpul dengan orang yang memiliki kecintaan pada dunia yang sama pasti akan sangat menyenangkan.
Baiklah bosse, kau telah memberikan waktu sampai tanggal 26, maka dalam tenggat itu, aku akan bersemedi, membulatkan tekad, untuk datang ke Bandung, mungkin untuk sekedar berkumpul dengan para pecinta sejagad, atau memang menjemput dia yang sudah tuhan janjikan.
Ttd.
Lastrange.
Rabu, 18 Februari 2015
Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih
Dear Brigadir Dewi Sri Mulyani.
Mendapati kenyataan bahwa surat ini kemungkinan besar tidak akan kau baca, di situ kadang saya merasa sedih.
Jika alasan kesedihanmu, waktu itu adalah melihat anak – anak yang rewel maka ijinkan saya sekali ini untuk rewel padamu, Dew. Saya ingin mengeluh tentang banyak hal, banyak sekali yang terjadi belakangan ini dan semuanya terjadi di luar perkiraan. Sebenarnya saya jarang sekali mengeluh, saya tahu itu tidak pernah ada gunanya. Tapi kali ini, berkat melihat fotomu yang beberapa hari ini rajin berpatroli di lini masa, saya tahu di sana ada ekpresi bentuk empati yang nyata. Maka tolong berikan saya pundak untuk mengadu beberapa hal...
Kenapa ya sulit sekali mengajak sepuluh jari kerja sama dengan segala ide yang muncul di kepala? Kadang di dalam berbagai lobusnya, muncul jutaan kata yang ingin ditulis dalam bentuk cerita atau hanya sekedar surat. Tapi ketika berhadapan dengan balpoint atau buku, ibu jari dan telunjukku mendadak kaku. Ketika berhadapan dengan seluruh tombol di laptop, sepuluh jariku mendadak kelu. Di situ kadang saya merasa sedih.
Tolong fahami sebelumnya, ini bukan berarti aku perhitungan atau pelit amal untuk orang lain ya, Dew. Tapi kenapa dunia kerja sistemnya begitu menyebalkan. Ketika kita mau berbuat baik bagi orang lain, mau mengerjakan pekerjaan orang lain, tapi orang lain tidak mau mengerjakan pekerjaan kita atau hanya sekedar berbuat baik. Kalau saya ikut egois,ikutan gila, siapa yang akan jadi orang waras di sana? Dalam beberapa kesempatan kita dipaksa mendahulukan kepentingan orang lain, tapi di lain waktu orang tidak pernah menghargai kepentingan kita. Di situ kadang saya merasa sedih.
Kemari, Dew. Saya butuh pundakmu satu lagi. Saya ingin cerita tentang hal lain, kenapa Tuhan harus menciptakan sebentuk perasaan bernama patah hati? Saat kita benar – benar merasa telah menemukan orang yang tepat, ia malah memalingkan muka mencari muaranya sendiri, mencari kebahagiaan lain di hati orang lain. Lalu, kenapa begitu sulit menemukan sesuatu yang bisa dicintai dengan orang yang baru? Kenapa sangat tak mudah memulai lagi segala sesuatunya dari awal? Lalu saat jatuh cinta, oleh tatapan mata di pertemuan pertama eh tiba – tiba setelah berjalan dua tiga hari, semua perasaan itu lenyap seketika. Di situ kadang saya merasa sedih.
Baiklah Dew, ku cukupkan sampai di sini suratku kali ini. Jangan lupa membalas suratnya dan satu lagi, meski kamu bilang kadang – kadang jangan terlalu banyak bersedih. Tak baik untuk kesehatanmu. Aku juga janji, tak akan rewel lagi.
Ttd.
Lastrange
Selasa, 17 Februari 2015
Jangan Salahkan Monyet
Sungguh aku tidak sedang marah, tidak sama sekali. Malah kebahagiaan menyeruak ketika ada sepenggal namaku di akta kelahiran anakmu. Apakah selama ini, aku hanya kau anggap anak??
Aku pernah dipaksa kehilangan demi pernikahan orang lain, dua kali. Dua kali! Dan kau yang pertama melakukannya. Entah apa maksud dari muncul tiba-tiba di akun facebook ku yang mulai berkarat dengan foto profil yang diambil dari sesi foto keluarga kecilmu itu.
Ingin meledek atas penyesalan yang pernah ku telan karena tak mampu memberi kepastian? Atau hanya ingin membagi kabar baik? Percayalah, melihat kau dan keluarga kecilmu baik-baik saja itu membantu ku untuk baik-baik pula. Karena mungkin yang ingin kau tau, bahwa kini aku tengah merawat diri dari luka sejenis. Pulih darimu aku dicabik-cabik oleh rencana pernikahan lainnya. Kenapa ya rasanya hampir setahun sekali, aku mengalami hal seperti ini? Aku takut jika tahun ini sampai mengalami hal yang sama kasir mini market akan menawarkan luka yang ku punya agar ditukar dengan sebuah piring cantik.
Katakanlah aku tak cukup dewasa menyikapi angan dan inginmu waktu itu. Tapi yakinlah, aku bisa saja jadi lebih gila jika menuruti maumu untuk datang pada orang tuamu, menikahimu, lalu membawamu ke kamar kostan ku untuk menemaniku bergadang menyelesaikan Tugas Akhirku. Apakah dewasa seperti itu? Tergesa-gesa mengambil keputusan lalu di ulang tahun pernikahan yang kedua kita memutuskan berpisah? kenapa tak begitu sabar menunggu hingga aku kembali, sampai aku siap membekali lahir dan batinmu?
Dalam kasusmu, aku terima sebagai pihak yang disalahkan di depan teman-teman sekelas kita dulu. Aku faham jika kecewamu atas bimbangnya keputusanku, hingga tak mampu menyimpulkan apapun untukmu, membuatmu mudahnya membuka hati demi sosok yang namanya kau sebut di rakaat kedua istikharahmu. Tapi kenapa di dalam pesta, kepada mereka kau bilang bahwa denganku hanya sebatas cinta monyet yang tak perlu lagi dibicarakan?
Apa yang salah dengan cinta monyet? Apalagi cinta monyet yang bertahan hingga tujuh tahun. Semua orang belajar dari sana sebelum mereka mencintai dengan cara yang katakanlah bisa lebih dewasa. Maaf, bukan maksudku hendak mengungkit lagi kejadian dulu. Hanya saja dunia juga perlu tahu, bahwa cinta tak cukup hanya dewasa, tapi masuk akal juga.
(Cinta) Monyetmu.
Minggu, 15 Februari 2015
Assalamualaikum Teh Nay
Sebelumnya, saya mohon ijin sama pak lurah @artlagladar karena telah lancang menulis surat untuk bu lurahnya. Sungguh sampai detik ini pun, saya mengidolakan kalian berdua sebagai pasangan yang selalu membuat iri seisi linimasa raya. Cinta seakan tak pernah kehabisan ruang, bahkan hingga dunia maya Teh Nay, setidaknya di mataku selalu begitu.
Assalamualaikum teh nay, sehat? Lagi sibuk apa di bintan? Semoga berkah dari Allah selalui menaungi setiap perjalananmu, seperti balutan hijab yang melindungi berharganya mahkota dan hidupmu. Amin.
Sekali lagi, maafkan kelancangan ini, bu lurah. Mengingat siapalah aku ini? hanyalah remahan rempeyek di dalam kaleng khong guan yang berisi ribuan followermu, kita tak pernah bertemu atau saling bertukar cerita. Paling hanya berjumpa dengan avatar masing-masing ketika kebetulan tweetmu ku balas, kemudian kau retweet atau membalasnya lagi. Percayalah, ketika menerima itu, rasanya senang setengah mati.
Pertama kenal teh nay sepertinya ketika masih bernama Mrs. Stark atau Mrs. Anthony Stark gitu teh, lupa. Sampai detik ini. Tapi itu tidak penting kan teh? Masa lalu. Yang penting tetap ingat "Kita manusia. Dan manusia yang baik, pasti belajar dan berusaha untuk jadi lebih baik" aku tahu teh nay adalah salah satu orang yang baik, sudah terbukti kok. Hehehe.. Gak ada rencana ganti nama akun twitternya jadi Bu Lurah nih teh?
(Soal Mrs. Stark itu maaf kalo salah, aku inget2 lupa yang pake nama akun itu teh nay apa bukan)
Teh Nay! Ada hubungan apa antara teh nay dengan lagu Almost Lover? Ya tuhaaan... sejak baca tweet teh nay soal lagu galau apa yang enak didenger dan teh nay nyebut lagu itu, sampai saat ini di playlist musik di hp lagu itu ada dan jadi racun! Tapi, yang paling nyebelin setiap buka soundcloud harus ke akunnya teh nay terus muterin lagu itu versi teh nay. Ya salam..... bener kata mas mu teh, siapapun yang denger suara mu emang bisa bikin minder. Beruntunglah mas arta, yang mungkin pernah punya kesempatan mendengarkanmu melantunkan ayat suci al-quran dengan suara semerdu itu. Atau anak-anaknya kelak, yang akan diajari abatasa oleh ibu yang wajah dan suaranya sama cantiknya. Doaku selalu teh, agar kalian bersatu hingga nanti menimang anak cucu.
Itu salah satu kekagumanku teh, akun souncloud dan tentu saja merdu suaramu. Tapi kekagumanku yang kedua, adalah bagaimana kau berhijab dan memandang muslimah dari prespektif dirimu sendiri. aku kagum ketika keteguhanmu berhijab, identitas muslimah sejati, dibalut dengan busana sangat casual dan santai. Tentu saja ketiganya merefleksikan dirimu sendiri, teh nay yang muslimah, casual dan santai. Maaf lagi teh jika sok tahu, tapi ini adalah soal observasi bertahun-tahun sebagai remah rempeyek di kaleng khong guanmu.
Kekagumanku selanjutnya, punya kekuatan dari mana teh bisa LDR-an segitu jauhnya? Aku tidak tahu bintan di mana, yang pasti itu jauh dari jogja ya kan? Bagaimana caranya melatih isi dada dan kepala agar lebih peka ketika semua yg tak terjangkau oleh mata, bisa dipercaya, itu? Aku pernah punya pengalaman yang sama selama setahun teh, tapi ujungnya tetap berantakan. Waktu yang sama-sama pernah dibagikan untuk satu sama lain, tak pernah berujung saling memberikan sisa usia sebagai kado terbaik berikutnya.
Doaku lagi, semoga pak lurah dan bu lurah diberikan kesebaran seluas samudera yang memisahkan kalian dalam menunggu dan segera bertemu di pintu masa depan berjudul pernikahan.
Wassalamualaikum, teh nay.
Dariku (yang kini tak lagi) pengagum rahasiamu.
Jupiter Ascending
Dear R
Maaf jika kau harus membaca surat ini ketika cuaca di kota kita tengah begitu panas-panasnya. Mari kita buat sejuk dengan menceritakan nonton a.k.a kencan pertama kita semalam.
Kau tahu R bahwa film, buatku tak hanya sekedar hiburan. Aku bisa belajar banyak hal dengan menonton banyak film, bagaimana fiksi bisa mengubah dan membuat banyak teknologi, hukum kimia dan fisika yang tak pernah ku kuasai bisa dipelajari dengan mudah di film, mengumpulkan satu persatu kosa kata baru, bahkan dari film juga aku bisa belajar bagaimana cara mencintai hingga melukai seseorang.
Kau tahu R aku belajar juga dari Jupiter Jones, tokoh utama dari film yang kita tonton semalam. Yup, tokoh yang kamu bilang terlalu banyak musuhnya. Zodiak dia Leo juga, sama denganku. Kata dia, bahwa orang dengan zodiak Leo berarti ditakdirkan untuk hal-hal yang hebat dan menemukan cinta sejati. Di film tersebut memang Jupiter akhirnya menjadi penguasa alam semesta, itu lebih dari hebat. Dan ya memang dia menemukan cinta sejatinya yang selalu mencari-cari dan menjaganya mati-matian sejak awal.
Entahlah R, aku akan ditakdirkan untuk hal hebat seperti apa. Tapi bukannya kehidupan juga adalah hal hebat itu sendiri? Keajaiban paling besar yang diberikan Tuhan kepada kita. Kau pasti akan tercengang bila mengetahui harus berapa banyak sel sperma lainnya, sebelum kita dilahirkan sebagai seorang manusia. Kau harus bangga menjadi dirimu sendiri.
Tapi itu pertama, berikutnya Jupe mengatakan soal menemukan cinta sejati. Di tengah dentuman musik dari film yang menimbulkan ketegangan bagi kita di kursi masing-masing tadi malam, aku pun memikirkannya. Sebagai seorang Leo juga, apakah dalam rangkaian keajaiban besar ini aku akan menemukannya juga? Apakah itu kau R? Atau kau juga hanya akan lewat begitu saja sampai yang tepat itu ada? Atau tak akan pernah ada selamanya.
Jujur saja R, ada banyak hal yang ku cari tak ku temukan di dalam genggaman tangan atau dalam tatapan matamu. Seperti katamu, kita terlalu banyak bedanya. Bahkan ketika memperlakukan film, bagianku sudah ku ceritakan, namun ku yakin kenaifanmu terjadi tak hanya sekedar karena kau menonton film baru pertama kali. Aku takut R, jika terlalu jauh ku bawa kau di dalam langkah-langkahku, kau hanya akan ku cari ketika aku butuh pelukan bukan karena aku membutuhkan rumah.
Aku bahkan kebingungan menulis kalimat penutup untuk suratku kali ini, tidak seperti pada surat yang memintamu datang tempo hari. Tapi setidaknya terimakasih karena sudah mau menemaniku tadi malam.
Selamat sore,
Lastrange.
PS: untukmu di masa lalu, kau tahu tidak di film semalam Chaning Tatum memiliki sayap. Aku tahu, kaum sin, nephilim atau lycantant adalah favoritmu.
Cairina Moschata
Hai, Cairina moschata-nya Whorestore, kau tau kak bahwa nama Latin dari bebek hutan adalah Cairina moschata? Aaak tentu saja kau akan tau, mengingat betapa senangnya dirimu pada hewan berparuh itu. Kau juga pasti tau bahwa Cairina moschata adalah nama Latin untuk jenis itik hutan, bukan itik yang ada di peternakan. Sengaja kak, karena aku rasa, ditilik dari kebersamaan kita selama 30 hari ini, aku merasa bahwa itik hutan lah yang pantas untuk jadi maskot atau mendeskripsikan dirimu.
Aku harap kamu tidak tersinggung soal itu, kau adalah itik hutan yang cantik, bulu dan sayapmu yang berkilauan adalah hasil kerja kerasmu yang disaksikan alam selama ini. Yoga, segala makanan sehat, juga tawa dari angsa-angsa lain (sahabat-sahabatmu misal kak adel lah, aku harap dia tidak tersinggung jika aku mengibaratkannya sebagai angsa kanada) yang memberikan nyanyian dan berbagi segala jenis tarian di danau tenang di dalam hutan. tapi apakah kau lupa bahwa keberadaan makhluk cantik di tengah hutan merupakan hal yang diincar para pemburu?
Dan bolehkah ku tahu, itu panah siapa yang menancap di jantungmu sampai proses move on itu berlangsung begitu lama?
Hehehe maaf jika aku mencuri lihat dari hastag #jodohuntukiit dari kak adel dan kak elwa waktu itu, percayalah dibalik hujatan semacam PLR MMQ antara kau dan angsa-angsa cantik itu, aku juga mengahangatkan sebuah doa agar kau secepatnya bahagia. Ditemukan seseorang yang tak cuma berniat memburu, namun juga menyembuhkan luka yang ada. Yang paling penting tentu saja, dia akan mencabut panah yang kini masih menancap di jantung tukang posku yang sungguh cantik ini.
Tau tidak kak, bahwa sampai hari ke 30 ini setiap kali dirimu bilang "mari antarkan surat" aku membayangkan kau bertopi lebar, dengan pakaian yogamu, menggenjot sepeda klasik dengan keranjang besar di depannya berisi semua surat - surat yang dititipkan padamu, lalu dirimu mengayuh sepeda itu dari satu akun ke akun lainnya. Persis seperti loper-loper koran di waktu laku, bedanya, ketika kau melemparkan surat ke lini masa yang terdengar adalah teriakan semacam "DHEG" "berani mention gak..." atau "ah manisnya..."
Terimakasih kak iit, sudah menambahkan rasa manis untuk setiap surat yang kami buat, dengan hal kecil namun sangat berarti itu. Kau tidak tau betapa gusarnya aku setiap malam menunggu kau ikut menyertakan hal-hal kecil itu di luar amplop surat yang dibilang tweet itu. Lalu, selama beberapa hari kau hilang katanya jatuh sakit, duh kak! Maaf kak, aku tak bermaksud menggurui sama sekali. Makananmu boleh saja sehat, atau semua jenis olah ragamu bisa saja kamu sebut cukup. Tapi jika kurang tidur buat apa? Bebaskan kepalamu dari segala macam hal yang hendak kau lupakan. Bagaimana mungkin seseorang bisa melewatkan kegiatan senikmat tidur lebih dari delapan jam setiap malam?
Ah sudahlah, aku takut surat ini terlalu panjang nantinya. Aku takut kau malah malas membacanya. Kau tahu bahwa sebelum hastag ajaib #30HariMenulisSuratCinta ini ada, aku tidak mengenalmu sebelumnya. Paling aku hanya sedikit melihatmu lewat mention kak elwa atau kak adel. Sampai akun @adimasmanuel memberi kabar soal project ini, aku mencari tahu pada siapa aku harus menitipkan suratku. Ternyata kau! Kau itik cantik, iit cantik, Cairina moschata-nya Whorestore. Ternyata Tuhan selalu punya caranya sendiri mengajari manusianya, aku yang di awal project ini tengah limbung dengan berbagai duka dan usaha melupa, bertemu denganmu yang nampaknya punya segala cara untuk melakukannya. Salah satunya, kau mengubah luka menjadi semacam tawa dan menari bersamanya.
Terimakasih kak iit, selama tiga puluh hari ini tanpa kenal lelah membaca dan mengantar suratku, terimakasih, kalau bukan karena dirimu aku tidak mungkin bertemu lagi dengan dunia lama yang pernah ku tinggalkan ini, dunia menulis. Jika bukan karena mu, tidak mungkin pos di dalam blogku kini bertambah banyak. Terimakasih, telah mengajari soal teori keikhlasan, membiarkan orang yang disayang bahagia dengan pilihannya.
Terimakasih banyak, aku harap suatu saat kita bisa mengulang 30 hari yang sama seperti ini.
Meskipun surat ini bentuknya tak istimewa sama sekali, ijinkan aku memberikannya sebagai hadiah spesial sebagai penghargaan tertinggi atas kerja keras sebagai tukang pos kesayanganku selama tiga puluh hari ini. Terima kasih, Cairina moschata.
Dengan hormat.
Aku, satu dari #teamIitSibarani
PS: maaf kak iit, akhirnya aku putuskan tidak ke bandung tanggal satu nanti. Ibuku menyuruh pulang, setelah ku bacakan salah satu suratku untuknya di telpon beberapa hari lalu.
Sabtu, 14 Februari 2015
Perempuan Berhati Merah Jambu
14 Februari 2015
Kepada Ibu di desa, selamat hari Cinta.
Apa kabar ibunda? Semoga doa cuma-cuma yang ananda pinta dalam solat lima waktu yang ternyata masih berlobang sana sini, selalu sampai pada hari-hari ibunda melalui perpanjangan kasih sayang Tuhan. Maaf, jika sampai hari ini ajang berbakti yang bahkan segampang itu pun, masih ananda lakukan ala kadarnya saja. Tentu saja tak akan pernah jadi sepadan bila dibandingkan dengan alunan doa panjang yang ibunda pinta di setiap sujud dan rakaat-rakaat yang khusyuk ibunda lakukan.
Bu, ibu ingat Indira Ghandi? Atau Florence Nightingale? Para pahlawan perempuan hebat bagi negara dan kemanusiaan seluruh dunia. Tahukah jika ibunda lebih patriotik dan patut disandingkan dengan mereka berdua? Ya betul ibunda, pertama ibunda layak jadi pahlawan hanya karena mengikuti program keluarga berencana dengan memiliki dua orang anak saja. Hal itu berperan besar dalam pengurangan populasi manusia di seluruh dunia ibunda! Tahukah jika pemerintah dunia saat ini tengah pusing setengah mati karena membengkaknya populasi manusia ini, setidaknya ibunda telah jadi aspirin untuk meringankan gejala sakit kepala mereka.
Kedua, ibunda layak disebut pahlawan karena ibunda telah merintis usaha es batu keluarga kita dari kulkas sederhana hingga sekarang jadi sebesar kutub utara. Usaha yang asalnya hanya ibunda kerjakan sendirian, sampai akhirnya mampu membayar karyawan. Nah, dalam hal ini ibunda berhasil menciptakan lapangan pekerjaan dan ikut andil dalam pengurangan angka pengangguran. Jika mengingat itu bunda, aku kadang malu, kau menimba air dari sumur tetangga, mengikatnya di kantong plastik, hingga membekukanya jadi bentuk es batu, semuanya ibunda lakukan sendirian. Tanpa pernah meminta ananda memberi bantuan atau hanya sekedar gangguan. Sejak itu aku tahu, bunda ku adalah perempuan terkuat di dunia.
Wahai perempuan penggila tidur siang
Apakah menjadi putri tidur adalah cita-cita ibunda sejak muda? Karena kerap sekali ananda temukan ibunda jatuh tertidur di dapur, ruang makan, atau ruang keluarga. Letihkah mengurus hidup, bunda? Apakah doa-doa panjang itu begitu menguras tenaga? Usia ananda dua-dua lebih bunda, tidakkah ingin membagi beban itu bersama-sama? Belum cukupkah dirasa memberikan yang terbaik bagi ananda berdua? Padahal yang kini kami terima lebih dari cukup dan sangatlah layak. Meski kadang, lidah kami terjebak pada sayur asam yang keasinan atau sambal yang terlalu manis, itu semua selalu kami makan. Cuma itu ibunda, yang bisa kami lakukan untuk sekedar menghilangkan kabut kecewa di mata senja bunda. Kadang tetap kami tekur cita-cita yang bunda pinta, tapi tak pernah kami inginkan, juga untuk menghindari embun kecewa yang sama.
Wahai perempuan berhati merah jambu..
Jangan tersinggung ibunda, aku tahu sejak dulu bunda tak pernah suka merawat bunga. Jadi, pasti ibunda malas jika harus saya samakan warna hati penuh cinta bunda dengan kelopak mawar atau bunga sepatu. Karena bagiku, merah jambu hati bunda, adalah merah muda buah naga. Warna hati yang lembut namun berstektur sangat kuat tapi memiliki rasa paling manis. Tidak inginkah ibunda jatuh cinta lagi? Kenapa bunda bisa sekuat itu menahan malam-malam yang dingin tanpa menyalakan tungku perapian sendirian?
Apakah cerita si kakak sewindu lalu ada benarnya? Bahwa setiap berbaring di kasur, maka tubuh almarhum pun, utuh, hadir lagi di sana? Bunda, apakah gen yang senantiasa menghayati setiap nyeri patah hati atau demam dari kehilangan itu mengalir deras di dalam garis keturunan kita? Kenapa kita berdua begitu sama hancurnya ketika kehilangan orang yang kita cinta?
Tapi bunda telah memilih. Bahwa jatuh cinta mutlak hanya sekali. Anjuran dari ananda untuk menikah lagi, jangan pernah ibunda hiraukan. Di sebuah bar bernama masa muda ini, ananda memang sedang senang-senangnya menuangkan banyak minuman ke dalam gelas di dalam dada. Awalnya semuanya memberi ketenangan bunda, namun akhirnya memabukan. Tadinya, ingin ananda pilihkan satu untuk bunda, namun tak apa ananda berikan minuman yang lain. Minuman yang sama-sama akan memberikan kekuatan kepada kita, untuk menunggu Tuhan menyatukan kita lagi dengan bapak, pada suatu masa.
Bunda, hari ini seluruh dunia sedang pesta pora merayakan hari besar cinta. Lewat kesempatan ini, ketahuilah bunda, bahwa sampai detik ini cinta untukmu, adalah cinta yang tersulit diungkapkan. Tak pernah cukup, jika diselipkan pada mohon ampun saat lebaran atau ciuman tangan pada saat pamit untuk bepergian atau ketika kau menyambut setiap kedatangan.
Terimakasih bunda untuk segala yang selalu kau utamakan dalam hidup, terimakasih karena sudah memberikan kehormatan untuk terlahir dari rahim perempuan seperkasa dirimu dan untuk sebuah kenyataan dimana: "Aku begitu mencintaimu!"
Sekian bunda, surat kali ini. Jangan pernah hentikan alunan doa panjang dan kasih sayang itu. Bersama surat ini ananda sertakan sekotak sepatu, tak ingin duri atau paku menggores surgaku.
Peluk dan cium, ananda di perantauan.
Jumat, 13 Februari 2015
Valentine H-1
Ada yang mengusik tidurku pagi ini, ketika permintaan maafku meninggalkan pesan darimu karena kantuk yang menyerang begitu saja tidak kau tanggapi. Kamu marah? Atau rutinitasmu dimulai terlalu pagi hingga tak sempat untuk membalasnya, hanya ada simbol R di sana. Seperti inisial namamu, yang berarti masih rahasia.
Tenanglah, meskipun kau ku rahasiakan dari dunia, di pelukku ku buatkan kau dunia sendiri. Baik – baiklah di sana, anggap saja rumah yang lama tak kau kunjungi. Jangan marah, tak ada sedikitpun niat untuk mengabaikanmu. Ketika kemarinpun ku lupakan untuk memberitahu apa yang sedang aku lakukan, itu karena kepalaku tersita banyak perhatian. Mataku yang sibuk bukan berarti bisa mengabaikan kau yang sedang bertengger manja di kepala.
Jeda yang terlalu panjang ketika menghayati patah hati, terang saja membuat tajam kepekaan yang ku miliki berkurang. Ini hanya soal beradabtasi sayang, bukannya kita sedang memulainya lagi dari awal. Aku bahkan merindukan pertengkaran – pertengkaran kecil yang mungkin akan terjadi, kemudian hal itu beranak pinak menjadi hal – hal besar yang menyatukan kita di kemudian hari. Mari sama – sama asah lagi cara mengenali diri masing – masing, bukan mencari – cari bibit dari bakat saling mencari kesalahan satu sama lain.
Manusia bisa jatuh cinta dengan caranya yang paling misterius, seperti kau yang tiba – tiba datang lalu saat itu juga aku merasa telah baik – baik saja. Meski, kini kau melarangku untuk bertemu, hanya agar perasaan rindu itu menumpuk dan segala yang kita punya tak lekas terasa menjemukan? Oh bagaimana mungkin dapat ku tahan untuk tak merindukan pelukan hangat yang membuatku merasakan bahwa itu adalah bantal paling nyaman yang pernah ku temukan.
Di balik selimut yang membungkus kaki yang menggesek – gesekan kulitnya pada lapisan sprey tempat tidur, aku sedang menghabiskan sisa makan malam yang kau kirimkan. Aku benar – benar mengutuk pertemuan singkat itu. Kau yang buru – buru pulang lagi dengan alasan mengantuk, namun tak hentinya menggodaku di berbagai aplikasi untuk pacaran lewat dunia maya benar – benar telah berhasil mengganggu rinduku. Alih – alih kau bilang semoga bisa sekedar menyembuhkan, kau malah mengubah statusnya menjadi siaga satu.
Tunggu sebentar, memangnya kita pacaran? Kita mungkin telah menyatakan perasaan masing – masing namun belum juga sepakat memberikan judul bagi kebersamaan yang sedang kita lakukan ini. Kita melakukan segala halnya melewati etika orang pacaran, tapi jelas di antara kita berdua belum ada sama sekali yang namanya pengesahan dari sebuah hubungan. Bayi yang baru lahir saja memerlukan akta kelahiran, apalagi hubungan yang baru dimulai. Pekarangan depan rumah saja memerlukan sertifikat, apa kau tidak ingin ke KUA cepat – cepat?
Begini saja, sabtu ini kau tak kemana – mana? Aku tunggu kau di barisan D, ada yang ingin ku sampaikan. Jangan terlalu depan aku benci jika pulangnya harus keluar uang lagi demi selojoran di kursi relaksasi dekat eskalator. Jangan terlalu belakang, usia kita sudah tak memadai lagi untuk hubungan coba – coba jenis begitu. Bukannya kau juga akan menagih coklat dan es durian yang ku janjikan? Percayalah, aku punya yang lebih manis dari itu.
Manjamu.
Kamis, 12 Februari 2015
Rindu
Untuk laki – laki yang katanya penikmat hujan...
Yakin kau benar – benar menyukai hujan? Sepanjang mengenalmu, kau malah sering mengeluh ketika empat menit menjelang guru membiarkanmu memimpin doa sebelum pulang, tiba – tiba limpahan air dari langit itu turun begitu deras. Kemudian di depan teman – temanmu yang sama kelaparannya, kau rapalkan seisi penghuni kebun binatang. Bukan, karena tidak ada bus atau angkutan perdesaan bukan? Tapi itu karena uang sakumu habis oleh kang bakwan, dan kau harus berjalan kaki sampai rumah dengan berbasah – basahan. kau hanya menyukai bagian dari tetes air yang tak sengaja jatuh dan terperangkap di jendela. Lalu ia yang dibantu okisgen dan gaya gesek yang menimbulkan panas mentes pelan – pelan membuat goresan syahdu dan membuat tatap matamu nanar hingga berkabut. Dari sana, biasanya jari – jarimu lincah menari salsa di atas berbagai jenis kertas, menulis semua puisi atau cerita pendekmu seperti biasa.
Ah benar, kau dulu pernah begitu percaya diri di depan guru bahasa indonesia SMP mu dan mengacungkan penamu tinggi – tinggi, bilang kalau kemampuan menulismu di atas rata – rata. Lalu, dengan pongahnya kau tinggalkan masa SMA kau melarikan diri ke kota dan meninggalkan semua kertas – kertas berisi puisimu sendirian di desa. Lama sekali, kau mengabaikan dunia yang pernah menghiasi malam atau menemanimu bergadang di surau ketika kebetulan kau kena jaga ronda. Kau berkilah, bahwa kesibukan baru di tempatmu menuntut ilmu dan jenjang baru sekolah-sekolahan mu itu, membuatmu tak punya banyak waktu untuk datang berkunjung ke pacar –puisi- lama mu itu. Sampai seorang dosenmu memberi tugas informatika, kau pun diperkenalkannya dengan blog, juga semua benda dari dunia maya. Kertas – kertas lamamu, patah hati lagi. Kau kemudian disibukan dengan mengintip banyak blog orang lain, lalu baju kepercayaanmu pada kemampuanmu menulis dan keinginan mengumpulkan semuanya menjadi sebuah buku, luntur satu persatu. Dan dalam waktu yang lama sekali, baik kertas, dus bekas rokok, tak pernah kau cumbu lagi dengan pena di tanganmu.
Kau ingat, pertemuanmu dengan pengajar mata kuliah bahasa Indonesia baru di kampusmu? sebelumnya kau dan teman – teman sekelasmu disuruh membuat sebuah teks roleplay yang memperagakan adegan pasien yang hendak diintubasi lehernya oleh tenaga medis. Waktu itu hanya kelompokmu yang mengumpulkannya. Itu karena di sana ada dirimu. Lalu ketika dosenmu memuji dengan nilai A teks drama yang kau buat, kau mengelak, bahwa itu hanya teks drama biasa dan masih banyak orang yang bisa lebih baik melakukannya. Untuk kesekian kalinya, kau menutup telinga, ketika banyak mata bicara pada sesuatu bernama bakat yang kau punya.
Lalu, kenalan – kenalanmu berikutnya, facebook, twitter, tumblr, semakin membuat percaya dirimu pada menulis cacat bahkan lumpuh total. Kau terlalu disilaukan oleh mereka yang lebih dulu mengenalnya, dan lebih dulu membangkitkan percaya dirinya. Sementara kau makin tenggelam dalam kebiasaan buruk, meng-copy paste dari seleb tweet yang bahkan tak pernah memperdulikan keberadaanmu. Kau tidak pernah belajar apa? orang yang meniru tidak pernah dapat apa – apa, selain nilai palsunya.
Tapi, empat belas hari lalu, kau berkenalan dengan seorang boss, kepala kantor pos dunia maya tepatnya. Di kesempatan itu, ia juga memperkenalkan seorang tukang pos cantik padamu, yang jika kau menulis surat cinta untuk siapapun ia pasti akan menyampaikannya. Untuk pertama kalinya, kau menatap lagi layar polos di komputer tuamu, masih dalam suasana berkabung karena patah hatimu lah yang membuat kesepuluh jarimu bekerja sendiri, menulis setiap kata marah, kecewa, sedih di sana. Kau kehilangan begitu dalam, lalu kau putuskan menulis sebuah surat dengan harapan semoga saja dia yang sudah membuat kekacauan di hatimu mendapatkan hidayah agar mau membacanya. Beberapa detik sebelum kau menekan tombol post di blog usang yang sudah dipenuhi sarang laba – laba itu, kau kembali ragu. Samar, namun dapat ku dengar “ada orang yang mau baca gak, ya?” tanyamu pada diri sendiri. Sungguh, aku ingin memukul kepalamu dengan batu yang paling besar saat itu juga.
Kau kaget sendiri bukan ketika melihat betapa banyak orang yang mengunjungi blogmu akhirnya? Bahkan dengan konyolnya kau mentertawakan diri sendiri, sambil terpingkal – pingkal kau merasa tak habis pikir bagaimana mungkin tulisan cengeng itu banyak yang baca. Aku bahkan menyayangkan, kau baru sadar kau bisa menulis, kau baru menulis lagi ketika kau patah hati. Tau begini, aku akan mendoakanmu semakin sering patah hati.
Tulis saja, tulis apapun yang keluar dari tiap batang ide yang ada di kepalamu. Seperti dulu, bahwa kau menulis karena kau senang menulis, bukan karena orang agar mau membacanya. Ah, aku jatuh cinta sekali padamu yang lantang mengkampanyekan prinsip itu. Bukannya kau merindukan juga, suasana ketika kau diam – diam menyingkir dari keramaian, lalu duduk sendirian di bawah pohon paling rindang, di dekat kolam nenekmu yang pelit itu? Di sana biasanya kau habiskan waktu berjam – jam bercumbu dengan kami. Puisi – puisi lamamu, Tuan.
Salam, kami selalu merindukanmu.
NB: kalau ada waktu, sempatkanlah pulang ke rumah ibumu di desa, kami setidaknya butuh tempat baru. Ibumu meletakan kami di kolong lemari tuanya, di sini lembab dan berdebu, selain itu populasi dan tingkat kelahiran tikus meningkat tajam belakangan ini.
Rabu, 11 Februari 2015
Untuk Tuan Putri
Dear, my (beloved) older sister, i’ll stand by you.
Sore kak, aku tahu kau saat ini jauh dan kita tidak sedang bisa bertatap muka. Makanya sengaja aku tulis ini, begitu ku cari – cari dalam kepala siapa yang mungkin saat ini paling butuh dukunganku, entah kenapa begitu saja aku langsung ingat dirimu. Sosok tuan putri dan panglima perang di keluarga kita.
Aku yakin orang akan mengerutkan kening ketika sosok yang ku sebut panglima perang malah membutuhkan dukungan. Percayalah sisi dari diriku yang lainpun melakukan hal yang sama, bagaimana mungkin orang yang selama ini mengajariku berjuang melawan hidup yang keras, yang memberiku banyak perkakas dalam menaklukan setiap tantangan yang tuhan beri, malah menjadi orang yang ku rasakan sangat butuh dukungan.
Tidak, aku hanya sedang melihatmu dari sisi yang lain, Tuan Putri. Tidakkah kau merasa bahwa usiamu hampir memasuki waktu tengah malam? Bagaimana bisa kau terus merasa baik – baik saja sendirian? Aku tak ingin bicara cinta dengan membayangkanmu, bagai seekor burung dara yang tengah kasmaran. Aku tahu, masa itu telah lama lewat dari alur pubertasmu. Tidak inginkah kau melihat ilalang di depan rumah bergoyang dengan dua, tiga, anakmu berkejaran?
Aku tahu, bahwa gagalmu di masa lalu bisa saja kau jadikan tameng pertahanan untuk segala ‘baik – baik sajamu sendirian’ selama ini. Tapi matamu tidak pernah bisa lari dariku, orang yang telah mengenal baik setiap sorot cahaya kehidupan yang keluar dari sana. Bukannya itu juga yang jadi kapas untuk menutup kedua telingamu, menghadapi diskusi sok tahu orang soal makin panjangnya masa lajangmu? Sekali lagi, kau tidak akan bisa membohongiku.
Begini kak, aku tak pernah menuntut kejujuran atau pengakuan untuk cinta yang muncul dari sudut pandang lain di matamu. Kau begitu berhak pada bahagia yang kau yakini, namun karena kau tidak pernah membicarakannya denganku, jadinya kau juga tidak punya juru bicara melawan dunia yang kian hari kian panas membahas soal kau yang tak malu akan usia dan terus menghabiskan waktu sendirian.
Sebagai orang yang pernah bergantian rahim denganmu sebelum akhirnya menginjakkan kaki di dunia, aku tidak mungkin menuntutmu akan hal yang selama ini orang – orang itu juga bicarakan. Sebagai adik, yang ingin melihat kakak perempuannya bahagia, aku hanya ingin kau bahagia. Tentu saja dengan caramu sendiri, dalam hal ini kau mendapatkan dukungan penuh dariku.
Tidak ada orang yang bisa baik – baik saja sendirian selamanya, suatu saat kau akan butuh orang yang mendengar keluhmu, memijat bahu lelahmu, atau menampung semua khayalmu soal cita – cita berkeliling dunia. Tentu saja, semua itu tak hanya bisa dihabiskan denganku atau ibu yang memang keluargamu, sebagai manusia kita akan butuh manusia lain (yang tidak berasal dari keluarga) untuk diajak berbagi cerita.
Aku tau, di suatu tempat di dunia ini, pasti kau tengah jatuh cinta, kau hanya menyembunyikannya dari kami semua. Jujur saja, aku kadang muak kak pada cinta yang tak bisa diperjuangkan. Larilah, kejar cinta dan citamu, selagi ada waktu. Dunia saat ini, adalah dunia yang lebih bisa menerima manusia apa adanya. Orang di desa tetaplah desa, yang membutuhkan penyuluhan mendalam soal gen yang berbeda. Pergilah, jemput semua asa dan bahagiamu, wujudkan semua ingin dan rencana sesuai dengan yang ada di kepalamu. Kau sangat berhak atas bahagia seperti apapun. Tenanglah, untuk menghadapi mulut dari orang yang tidak tahu apa – apa, yang menganggap bahwa cinta itu selalu soal yang itu – itu saja, yang berpikir bahwa ‘jadi berbeda’ itu sebuah hal yang gila. Ada aku...
Ada aku yang akan menghadapi tajam bibir dan buruknya persangka mereka satu persatu. Tidak ada yang salah dengan cinta, hanya kadang orang butuh waktu untuk mencerna kebenarannya. Aku yang akan berdiri menghadapi mereka semua, untuk menjelaskan meski kau punya cara berbeda, kau masih bisa bahagia.
Ttd.
Adikmu.
Selasa, 10 Februari 2015
Aku dan Taylor Swift
Dear R, kamu kenal Taylor Swift? Perempuan yang tak sekedar cantik namun dia pintar dan sangat menggilai musik, tentu saja aku sepakat dengan pria seluruh dunia untuk menggilainya seperti ia menggilai dunianya. Setidaknya dia tidak perlu pasang silikon di pantat atau menjilat - jilat palu hanya untuk mencuri popularitas. Dia masih sejenis gadis langka, yang bermain gitar namun mengenakan gaun anggun ala - ala putri raja. Percayalah gadis seperti itu yang selalu kami impikan sebagai seorang pria.
Tapi tak adil, jika harus membandingkan kau dengan salah satu orang amerika itu. Kau adalah kau, seseorang yang beberapa hari ini muncul di undangan kontak di bbm, kemudian hampir setiap lima menit sekali mengganti display picture, lalu diam - diam aku perhatikan.
Tahukah engkau bahwa dulu, lewat salah satu lagunya Swift aku pernah meyakinkan seseorang untuk jatuh cinta If you could see That I'm the one Who understands you. Been here all along. So, why can't you see— You belong with me, You belong with me?
Jangan salah faham dulu, aku tidak mungkin memainkan lagu yang sama hanya untuk sekedar meyakinkanmu. Namun di kencan pertama kita tadi malam, ketika untuk pertamakali senyum kita bertemu, aku merasa mendengar Swift menyanyikan Blank Space sebagai musik latar perbincangan santai kita. Saw you there and I thought oh my god look at that face, you look like my next mistake..
Kalimat itu terdengar jelas, saat canda kita mulai berloncatan satu persatu. Ketika semuanya makin mengalir, jemari yang ragu - ragu berangkulan, kesempatan saling mencuri pandangan, hingga ciuman malu-malu, semakin jelas semuanya mengarah kemana: Love's a game, wanna play....
Tidak perlu tergesa - gesa, mari mainkan ini dengan ritme yang ringan seperti selayaknya musik country. Usap pipi dan ujung kepalaku lalu kita lintasi tiap savana atau pemandangan tandus namun menenangkan ala amerika selatan. Saat ini masih terlalu siang untuk bicara tentang cinta bukan? Entah ini akan selamanya atau hanya untuk sementara, namun ketika untuk pertama kalinya senyumku bertamu di matamu, hatiku seperti menemukan rumah.
Tidak, tidak, kataku jangan dulu tergesa - gesa. Tidak maukah mengenali setiap hobi aneh atau hal - hal konyol yang pernah terjadi pada diri masing - masing dulu? Apakah kau tahu bahwa aku tidak pernah bisa makan jika tidak sambil minum? Buat orang itu membuat mual, buatku itu membantu cepat kenyang. Atau akankah kau terkejut saat mengetahui betapa panjang daftar mantan yang ku miliki? Mungkin kau akan mengisi bagian yang masih kosong atau ku tulis namamu sebagai penutup dari daftar tersebut?
Bukankah kita berdua sama - sama bosan pada kisah-kisah lama yang membuat kita kelelahan melupakan? Bekas luka menjijikan yang ku milikipun tak semuanya bisa ditutupi, atau maafkan aku yang kurang sopan ketika ku selidiki kau begitu kehausan akan sebuah pelukan.
Semalam kita sama - sama lelap setelah sama - sama berkeringat, namun yang sangat ku nikmati ketika pagi tiba dadaku jadi bantalmu dan kedua mata kita bertemu, saat itu juga mentari dan pelangi terbit di kepalaku.
Aku ingin jatuh cinta yang sewajarnya, aku ingin kita menikmati setiap detik dan lekuknya, kini genggamlah tanganku lalu sama - sama kita mulai kisah baru.
Tertanda, Manjamu.
Senin, 09 Februari 2015
Surat Minta Jatuh Cinta
Dear Tuhan, di manapun engkau berada
Maaf jika aku terlalu lancang kali ini, menulis surat untukmu seakan kehabisan waktu dalam solat untuk memperbincangkan segalanya bersamamu. Mari kita diskusikan tentang kebahagiaan yang kau beri lalu kau ambil lagi. Ibarat Zuckerberg dengan facebook atau Jack Dorsey dengan twitter, Gates dengan microsoft atau Job dengan iPhone. Sebagai pencipta mereka selalu memperbaiki dan memberikan yang terbaiki untuk ciptaannya.
Sekarang mari bicara soal kita, aku yang kau ciptakan dan kau yang menciptakanku.
Apa sesungguhnya rencanamu ketika telah menghadirkan yang tepat, yang ku yakini terbaik, malah kau ambil dan mendaratkanya di hati yang lain.
Iya, itu hati orang lain, yang kau buatkan landasan untuk mendarat dirinya itu di hati orang lain, bukan hatiku.
Ada yang bilang bahwa kau adalah sang maha pembolak balik hati manusia, bisa balikkan hatiku lalu bersihkan semua sisa yang masih ada. Tapi ini hati, bukan telur mata sapi yang matang hanya dengan dibolak - balik saja, Tuhan. Tidak maukah memberi hati yang baru untuk ku, ciptaan terngeyelmu ini?
Maaf, jika beberapa hari lalu aku pernah marah padamu. Sesungguhnya itu hanya caraku merajuk agar kau mau mengembalikan dia padaku. Tapi itu kemarin, aku sudah tidak marah lagi, aku sangat berharap kalau esok atau lusa kau mau memberiku satu ruang untukku tinggal dan jatuh cinta lagi?
Permintaanku gampang bukan? Hanya mencari ruangan kosong yang tentu saja gampang untuk kau carikan. Yang telah lalu telah memberiku banyak pelajaran, hingga aku tahu bagian apa saja dari manusia lain yang kau ciptakan untuk aku bahagiakan. Segampang itu Tuhan, mohon jangan dipersulit lagi.
Demikian surat permohonan untuk jatuh cinta ini lagi saya ajukan, atas pertimbangan dan kesempatan yang kau berikan saya ucapkan Alhamdulilahirabilalamin.
Dengan hormat.
NB: kalau tidak kebertan aku ingin yang berbaju merah itu, Tuhan. Hehehe maaf sekali lagi merepotkan.
Minggu, 08 Februari 2015
Sepuluh
Hai, ini hari pertamaku melangkah tanpa lagi harus menyeret – nyeret semua soal kita yang sudah terlanjur berkarat. Ini hari pertamaku sebagai orang tanpa beban sebesar wajan kang nasi goreng yang bergantungan di kepala. Ini aku yang tak lagi cemas bahwa akan merasakan ngilu yang hebat ketika senyummu terbit di kepala. Ya ini hari pertamaku, Move On darimu. Tolong catat itu di kepalamu besar – besar, agar kau pun tak usah ragu untuk melakukan apapun yang hendak kau lakukan.
Bukan, ini bukan soal bahwa aku akan melupakanmu. Walau tidak sepenuhnya soal itu. Sejak awal bersama kita harusnya sama – sama sadar, bahwa sudah terlanjur banyak yang kita korbankan hanya untuk menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa bersatu. Dunia ini terlalu abu – abu bagi kita berdua yang senang memisahkan warna hitam dan putih. Semua ini memang telah berlainan dari semula, lain yang ku katakan dari yang sejujurnya aku rasakan, lain juga jalan ini yang tak pernah meminta kita bersama. Tapi sialnya, kita tak pernah bisa mengelak dari polosnya rasa cinta yang kini bahkan membuat kita berdua mabuk dan sulit lepas darinya.
Jujur saja, sulit untukku menyampaikan hal ini tanpa khawatir bahwa kau akan mengira aku masih begitu mengharapkanmu kembali ke sini. Sama sekali tidak, pergi dariku itu sudah jadi pilihanmu untuk bahagia, maka kau harus bahagia. Tapi hari ini bersama sisa dari rasa yang bergemuruh itu, aku ingin mengingatkanmu saja. Lewat sisa – sisa perasaan yang ingin kau baik – baik saja walau jauh dari mata, ya hanya sisanya. Agar terbawa semua, agar tidak ada lagi alasan untuk mengingatmu di sini.
Pertama, jangan terlalu banyak minum kopi tanpa gula, tidak baik untuk kesehatanmu belum lagi berapa batang rokok yang kau habiskan dalam sehari. Pintar – pintarlah memilih waktu yang tepat untuk meneguk minuman hitam itu, ku pikir sore hari adalah waktu yang pas. Karena di saat – saat itu, kau baru selesai dari rutinitas dan siap – siap mengambil jeda untuk istirahat. Kalaupun tidak mungkin hanya minum kopi sekali dalam sehari, kurangi lah satu atau dua gelas, terlalu banyak cafeine lah yang membuat matamu terjaga di malam hari. Bukannya kau juga membenci insomia akut yang kau derita? Jangan lupa, sesekali tambahkan gula di kopimu. Jangan sampai terlalu pahit, memangnya bagian mana yang bisa dinikmati dari rasa pahit?
Kedua, minumlah segelas susu hangat beberapa jam sebelum waktu tidur malammu tidak. Cuci kakimu dengan air hangat dan pilihlah baju yang bisa menyerap keringat, agar berkurang gejala insomniamu. Bukannya kau selalu benci ketika jam dua pagi, matamu masih saja berkeliling dunia memutar segala rencana yang tak ada ujungnya. Lalu di pagi hari berikutnya kau datang membenciku, karena aku tinggalkan tidur lebih dulu. Perbaiki kualitas tidurmu, agar baik pulalah metabolisme tubuhmu. Bukannya cita – citamu ingin sedikit lebih gemuk dariku?
Ketiga, tetaplah rakus dan tidak pernah pilih – pilih soal makanan seperti biasanya. Kau tahu apa sebabnya makanmu lahap tapi badanmu tak kunjung berisi? Ya itu, kebiasaan begadangmu mengacaukan metabolisme dan gula darah, semuanya tidak berjalan baik, gula di dalam aliran darahmu terlalu kental hingga kau terus merasa lapar dan itu tidak baik. Ya menimbun terlalu banyak gula dan makanan yang berperisa manis itu tidak baik, seperti yang pernah kau lakukan selama sebelas bulan kita bersama hingga yang terjadi akhirnya adalah luka menahun yang sulit disembuhkan. Ku ulangi, sulit disembuhkan. Bukan, tidak bisa disembuhkan.
Keempat, berhentilah membeli barang – barang yang tidak perlu. Coba pilih lagi, mana yang benar kau butuhkan atau mana yang kau inginkan tapi sifatnya tidak terlalu penting. Uang memang bisa dicari, tapi untuk apa jika akhirnya hanya terbuang jadi sampah. Faham yang ku maksudkan? Jangan sampai salah pilih lagi, jangan sampai membuang perhatian seseorang yang telah kau pilih lalu akhirnya kau buang lagi.
Kelima, tidak perlu tergesa – gesa ketika berkendara. Setiap hal, setiap orang bisa menunggu. Selalu bisa menunggu, kecuali batas waktu yang ada sudah tak lagi bisa diberikan toleransi. Kalau kau tidak mau menerima hal ini, nanti tanyakan padaku soal apa itu toleransi dalam batas menunggu. Aku akan jelaskan, betapa memuakannya waktu ketika ku gunakan untuk menunggu kabar darimu ketika kau pergi tanpa penjelasan.
Keenam, selalu ingatlah hari – hari penting yang terjadi. Misal ulang tahun ibu atau bapakmu, ini bukan mengingatkan ketika kau lupa hari kelahiranku. bukan soal sesak ketika kau bahkan tak ingat hari terpenting itu, itu sudah lama lewat. Tapi agar kelak kau tak lupa lagi hari – hari penting orang yang kau cintai, itu tak hanya sekedar hal lebay yang diperingati. Walau tak kau rayakan, setidaknya kau menyayangi mereka dengan cara menghargai mereka di hari – hari penting hidupnya.
Ketujuh, jangan lupa untuk membuka jendela kamar ketika waktu pagi tiba. Paru – parumu setidaknya butuh istirahat dari asap carbondioksida dan mendapatkan udara segar. Jantungmu juga supaya bisa mengayuh detaknya lebih lancar, yang tak henti mengisi degup dada sebelah kirimu. Dengan begitu, aku harap bahwa aku lebih cepat keluar dari sana.
Kedelapan, jangan pernah mengeluh soal sulitnya mencari pekerjaan. Di luar sana pasti ada tempat untuk segala yang kau cita – citakan, rutinitas yang kau rindukan, juga atasan yang kau impikan. Percayalah kau pasti mendapatkan nasib baik untuk itu, aku yakin kau akan menjadi seorang karyawan yang baik dan memberikan untung besar bagi perusahaan. Aku begitu meyakininya, karena dulu juga kau lakukan hal yang sama di hatiku. Aku pernah begitu menyukai suasana hatiku, ketika kau sibuk membahagiakanku di dalamnya.
Kesembilan, egois itu kadang perlu namun tak baik jika sering dilakukan. Pandai – pandailah melihat bagaimana perasaan orang lain bekerja. Kau tahu bahwa hasil terbaikpun kadang – kadang bukan selalu soal kemenangan, mengalah agar kelak orang faham bahwa kita yang sebenarnya kitalah yang menang. Percayalah, setelah putus asa menghadapi seluruh egomu, kemudian aku mengalah aku tidak hanya menang. Aku juga pernah belajar banyak hal, dalam menghadapi orang yang ku sayang.
Kesepuluh, ini yang terakhir, aku janji. Jika kau terlalu lelah membaca ini. Jatuh cintalah dengan benar, dengan yang mereka pilihkan dan yang akhirnya kau pilih. jangan sakiti orang lain seperti kau menyakitiku, jangan jatuh cinta dulu jika belum cukup dewasa untuk melakukannya. Jangan sampai melakukan atau jatuh lagi di kesalahan yang sama, karena luka yang bisa ditimbulkan olehnya sangat nyeri luar biasa.
Maaf jika suratku kali ini terlalu panjang, namun ketika menulis ini kemudian mengirimkannya beserta semua sisa yang ada aku seperti merasa lega. Rasanya mata seperti menemukan cahaya terang di tengah – tengah jalan buntu yang selama ini membelitku.
Selamat jalan, selamat berbahagia.
Dari...
Aku (yang pernah kau semogakan)
Sabtu, 07 Februari 2015
Ijinkan Aku
Kaset di kepalaku masih memutar - mutar ucapan kang pos ku dua hari yang lalu. "Kamu belum move on, ya?"
Tahukah kau Biw, kepalaku terus dihantui pertanyaan itu selama dua hari ini. Seperti ada sebuah kata baru yang dikenal oleh pencerna bahasa di kepalaku. Move on. Apakah harus? Kalau orang bertanya belum, bukanya berarti aku harus melakukannya? Apakah ini semacam level yang harus aku taklukan dalam rangkaian tak berhenti mencintaimu, pun melupakanmu?
Dunia sudah sepakat sayangnya, bahwa move on memang salah satu persyaratan mutlak yang harus dilalui orang yang baru terkena serangan patah hati.
Otak manusia, tidak dirancang untuk melupakan. Dia disusun dari berbagai memori yang merekam seluruh kejadian yang dialami manusianya. Jika move on berarti melangkah maju dan tuntutannya aku harus melupakanmu, aku khawatir terjadi sesuatu dengan otakku. Aku tentu saja ingin melupakanmu, aku bahkan rindu rutinitas tanpa diganggu dengan nyeri di kepala yang di ketuk oleh palu - palu godam berbentuk senyumanmu. Lalu aku tak sabar menunggu datangnya hari di mana palu-palu itu memukul agak keras, kemudian menimbulkan amnesia ringan. Lalu, bagian yang menyimpan soal kamu di otakku, tiba - tiba menghilang.
Kadang terlintas ide, mengirim pembunuh bayaran ke dalam kepala sendiri. Mungkin mereka bisa menebas setiap sel di otak yang bisa mengingatkan bahwa pelukmu begitu hangat. Sungguh aku bahkan benci aktifitas menyakiti diri sendiri ini, mengenang seseorang yang tidak akan pernah kembali pulang. Aku benci ketika merasa lupa meletakan sesuatu, kemudian sadar semakin jauh mencari, sejauh itu pula aku kehilangan.
Aku pun benci, jika aku harus melakukan sesuatu yang tidak berguna. Ya, menghayati semua perasaan kehilangan ini apa gunanya? Tidak ada bukan? Tenanglah, aku sedang tidak menuntut jawabmu, ini hanya pertanyaan untuk diriku sendiri. pertanyaan yang membuat akupun keheranan, kenapa bisa senjata bernama logika yang biasa ku gunakan, kini lumpuh tak termanfaatkan.
Kerugian lainnya yang mungkin sajaku derita, bahwa di jauh sana bisa saja kau sedang merencanakan bahagia orang yang sekarang kau cinta. Sementara itu, aku di sini masih disibukan mengenang dan harapan - harapan bahwa kau akan segera pulang. Sebagai orang yang perhitungan, aku benar - benar sudah rugi dua kali. Dua kali.
Ini akhir pekan, dan semua rutinitasku berjalan seperti biasa. Seperti biasa, yang tidak ada kamu di dalamnya. Tanpa ucapan selamat pagi, tanpa kekhawatiran aku akan lupa makan siang, atau soal multivitamin yang lupa ku makan. Tanpa itu semua yang biasa kau ingatkan, aku baik - baik saja, Biw. Aku baik - baik saja. Ternyata hari ini, aku sangat baik - baik saja tanpa merapal namamu bersama doa sebelum tidurku.
Apakah aku sudah bisa melewatkan hari tanpamu lagi, ketika aku merasa bosan dengan rasa nyeri yang selalu ku mamahbiakan. Aku bosan merasa hampa ketika menyadari kau kini tak ada, aku bosan merasa sakit ketika ingat bahwa kau pergi tanpa satupun alasan ataupun penjelasan, aku bosan ketika ingat kau masih punya hutang satu lagi pertemuan ketika tiba - tiba saja kau mengilang. Aku bosan dengan perasaan - perasaan mengharu biru yang tak kunjung selesai ini. Aku bosan, aku ingin ini segera berakhir.
Apakah ini berarti aku sudah mulai sembuh? Apakah aku akan segera pulang kepada hati di mana seharusnya aku berumah?
Meski aku kurang tau, kau akan khawatir atau tidak jika aku lupakan. Tapi tenanglah, hatiku itu serupa kotak pandora dan kau yang ku simpan di dalamnya. Suatu saat kau akan menjadi sebuah kejutan, bahwa dalam hidupku yang sekali ini, pernah mendapatkan cinta setepat dirimu, pernah ada orang yang melengkapkan semua kekuranganku, pernah ada orang yang mampu menjejari langkah dan mencintai setiap kegemaranku. pernah ada orang yang bisa membalas semua guyonan dan candaku. Maaf, jika pada akhirnya kau hanya akan dikenang sebatas itu.
Hari ini, ijinkan aku melangkah, membuka jendela baru yang selama ini tertutup oleh semua gorden kelabu kepergianmu. Aku melangkah, yang harus kau tahu bahwa hidupku harus berjalan tanpamu.
Hari ini, ijinkan aku melupakan. Melupakan tanpa merasa menyesal karena tak sempat memperjuangkanmu hingga usai. Melupakan, bahwa pernah ada rasa kebingungan besar ketika kau mendadak hilang tanpa kabar.
Hari ini ijinkan aku mengingat, mengingat tanpa rasa sakit. Mengingat tanpa harus menyalakan serial drama di kepala bahwa kau pernah begitu tega, melupakan aku dan kau yang pernah sepakat membentuk kata 'kita'. Mengingat, bahwa mungkin di luar sana ada cinta yang lebih tepat darimu, menunggu untuk segera ku ditemukan olehku.
Dan mohon berikan aku ijin untuk satu hal terakhir, aku ingin jatuh cinta lagi.
Selalu,
Masa lalumu.