Sabtu, 21 Februari 2015

Bukan Pasar Malam

Kau tau betapa bengalnya dirimu? Apalagi dalam perkara jatuh cinta. Kenapa begitu mudahnya untuk jatuh padahal kau tau hancurnyapun pasti kau dapat seketika. Kenapa tidak pernah belajar dari yang sudah-sudah? Ingat yang kau abaikan itu perasaan orang, bukan hanya sekedar bulu hidungmu yang kian hari makin panjang.
Tidak salah memang, ketika hati merasa tidak bertaut pada tempatnya. Seperti katamu bahwa setiap pencarian tidak selalu berujung menemukan. Kepalamu sudah faham betul soal itu, tapi tak baik jika mengajak terbang hati orang hanya untuk dihempaskan. Cinta bukan mainan.

Mengapa hobimu begitu mengesalkan? Senang mengoleksi dan mengumpulkan luka, ketika borok yang lalupun belum kering betul kau malah sengaja menusuk kaki dengan paku dari kecewa pada pencarian yang bukan kau inginkan. Tunggulah sejenak, tidak ada salahnya bersabar. Bukannya, urusanmu yang lain pun belum selesai benar?
Seperti kata Pram, hidup bukan pasar malam dan kita tak akan selalu beramai-ramai. Ada kalanya kita perlu mengeja baik-baik apa yang terjadi, benahi dirimu sebelum bertemu dengan dia -orang yang tepat bagimu- sehingga ketika kalian bertemu, kalian telah sama-sama menjadi orang yang lebih baik.
Semua yang terlihat oleh mata akan selalu terlihat mengkilat, bahkan beberapa di antaranya begitu berkilauan. Walau kau dapat memilikinya, jika suatu saat hanya akan kau singkarkan lagi buat apa? Menambah panjang deret dari kesalahan yang sama? Bahkan Adam saja harus menunggu lama, sebelum Hawa tiba sebagai pasangan yang tepat untuknya.

Bawa kompromi otakmu, jangan selalu menuruti rasa takut kesepian dan sendirian. Bahkan di luar sana banyak orang yang sedang merindukan masa-masa sendiriannya. Kasihan hatimu, jika kau pikir bahwa obat untuk nyeri karena patah hati adalah dengan jatuh cinta lagi, mau sampai kapan menipu diri seperti itu? Kau sendiri juga tahu, bahwa terlalu banyak memakan obat itu bagai meracuni organ hati mu pelan-pelan. Begitu juga yang akan ia derita ketika kau memaksanya untuk jatuh cinta kesekian kalinya.
Kau akan kaget sendiri ketika nanti bertemu dengan dia yang tepat bagimu, sadarkah orang di depan cermin itu begitu sangat merindukanmu? Tawa lepasmu? Atau suara lantang berteriak di tengah keramaian? Ketika kau merasa hidup kian sepi dan sulit, ada yang begitu merindukanmu begitu dalam: dirimu sendiri.

Aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar