Rabu, 25 Februari 2015

Mesin Waktu

Untuk Keluarga kecil ku di masa depan.

mungkin ini terdengar agak gila, entah bagaimana bisa muncul ide begitu saja di sudut kepala menulis surat untuk kalian. padahal kita belum bahkan tidak pernah bertemu, hanya saja aku punya keyakinan bahwa suatu hari akan membaca surat ini bersama kalian, melingkar duduk di sofa malas di ruang keluarga kita. yang harus kalian tahu, bahwa tulisan adalah satu - satunya mesin waktu yang bisa membawa utuh masa sekarang menuju masa depan yang tidak pernah kita pikirkan.

baiklah, aku akan mulai bercerita sekarang pukul tiga lewat delapan belas menit, sore hari.  tanggal dua puluh lima februari dua ribu lima belas. aku sedang tugas jaga sore di sebuah puskesmas, yang nanti jika aku benar - benar bertemu kalian akan aku ceritakan bagaimana gilanya suasana di sini. cuaca hari ini benar - benar membuatku harus melepas seragam ketika menuliskan surat ini untuk kalian. lucunya malah turun hujan, bukan mendinginkan suasana. hanya menambah kegilaan di sini jadi seperti neraka.
terserah mungkin kalian bisa menebakku sebagai orang yang sangar lewat tulisan di surat ini, tapi percayalah aku berharap dengan segala sisi kelembutan yang ku punya:

kepada seseorang yang akan aku nikahi,  tak peduli kau perempuan atau laki - laki. jujur saja, aku bukan tipe orang yang memisahkan hitam dan putih sendiri - sendiri. aku memoleskan banyak warna untuk duniaku, dunia yang suatu hari akan menyatukan cinta tidak berdasarkan alat kelamin saja. tidak berdasarkan berapa banyak uang yang kau punya, bukan juga pernikahan yang dilandasi rasa takut kesepian menghadapi sisa hidup sendirian.
aku benar - benar tak sabar, suatu hari kita akan menceritakan lagi bagaimana awalnya kita bertemu, berkenalan, mulai menatap kehidupan masa depan di mata masing - masing. hingga mulai percaya, bahwa kau memang yang dipersiapkan untukku, juga aku yang akan jadi pendamping seluruh sisa nafas hingga matimu. bahkan pada hidup setelah kematianmu itu.
percayalah bahkan jauh dari waktu sebelum kita bertemu aku sudah sangat mencintaimu, aku yakin bahwa di masa ini baik kau atau aku kita sedang sama - sama memperbaiki diri sebelum akhirnya saling bertemu dan menjadi pelengkap bagi segala hal yang masih kurang pada diri masing - masing. bagiku hal itu sungguh manusiawi sekali sayangku, menunjukan bahwa kau betul - betul manusia yang utuh. sebesar apapun usaha yang telah kita lakukan, tidak perlu kecewa akan hasil yang kita dapatkan.  suatu saat, mungkin apa yang ku dapat adalah untuk melengkapi yang kau punya. begitu pun sebaliknya, semua yang kau peroleh hari ini, bisa menjadi kaki ketiga dan keempat yang membantuku berjalan hingga berlari.

untuk dua atau tiga anak lelakiku, baik yang lahir dari rahim sendiri atau yang kami adopsi. tidak usah khawatir, jika di antara kalian saat ini hadir seorang tuan putri.  aku tidak akan membedakan rasa sayang untukmu, Nak. baiklah, jujur ini pertama kali terbesit di pikiran bahwa suatu hari aku akan punya anak. kalian. saat ini usia ku dua - dua, jadi di dalam pikiranku aku tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya punya keturunan. walau aku sering bermain - main dengan keponakanku -sepupu sepupu kalian- aku tak pernah membayangkan bagaimana jika suatu saat aku akan bermain dengan anak ku sendiri.
oh iya, ketika membacakan surat ini pada kalian, aku sudah jadi tipe ayah yang bagaimana? menyenangkan? menyebalkan? atau malah seperti ayah - ayah lainnya yang karena kesibukannya malah melupakan anak - anaknya.
aku hanya berharap, suatu hari bahwa aku akan jadi seorang ayah yang menggendong anak- anaknya satu persatu ketika subuh tiba untuk mengajaknya solat berjamaah.  membuatkan sarapan, juga bekal makan siang untuk kalian makan di sekolah. mengantar dan menjemput kalian satu persatu, karena aku begitu khawatir dengan keselamatan kalian, jika bukan aku yang menjaganya. selepas maghrib, aku akan memerahai kalian jika lebih asyik menonton televisi dibanding belajar ngaji. mungkin dengan catatan, di masa itu belum ada tekhnologi yang menggantikan televisi.
menjelang waktu tidur, aku akan mengantarkan kalian satu persatu  ke kamar baik dengan kalimat perintah atau dengan dongeng-dongeng yang bisa ku karang dalam sekejap.  banyak kok hal konyol dalam hidup yang bisa kita ceritakan. atau maukah kalian mendengar cerita soal banyaknya mantan - mantan pacar ayah selama kuliah?
aku akan mengecek lagi, barang dua atau tiga puluh menit setelah kalian lelap.  apakah lampu sudah dimatikan, jendela sudah dikunci, hingga pekerjaan rumah kalian, sudah sempurna atau ada yag harus diperbaiki. yakinlah, semua itu akan jadi lebih penting bagiku dari pada pekerjaan atau kesibukan lain yang mungkin saat itu sedang ku jalani.

itu hanya harapanku saja, keluargaku. jika di saat membaca surat ini, aku tidak sama sekali mencerminkan semua yang aku bacakan di sini. tolong tegur aku, bahwa sebagai orang dengan luka yang berat, aku pun pernah punya harapan yang besar untuk bahagia.

pasti, aku akan sangat menyayangi kalian. selalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar