Hai, ini hari pertamaku melangkah tanpa lagi harus menyeret – nyeret semua soal kita yang sudah terlanjur berkarat. Ini hari pertamaku sebagai orang tanpa beban sebesar wajan kang nasi goreng yang bergantungan di kepala. Ini aku yang tak lagi cemas bahwa akan merasakan ngilu yang hebat ketika senyummu terbit di kepala. Ya ini hari pertamaku, Move On darimu. Tolong catat itu di kepalamu besar – besar, agar kau pun tak usah ragu untuk melakukan apapun yang hendak kau lakukan.
Bukan, ini bukan soal bahwa aku akan melupakanmu. Walau tidak sepenuhnya soal itu. Sejak awal bersama kita harusnya sama – sama sadar, bahwa sudah terlanjur banyak yang kita korbankan hanya untuk menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa bersatu. Dunia ini terlalu abu – abu bagi kita berdua yang senang memisahkan warna hitam dan putih. Semua ini memang telah berlainan dari semula, lain yang ku katakan dari yang sejujurnya aku rasakan, lain juga jalan ini yang tak pernah meminta kita bersama. Tapi sialnya, kita tak pernah bisa mengelak dari polosnya rasa cinta yang kini bahkan membuat kita berdua mabuk dan sulit lepas darinya.
Jujur saja, sulit untukku menyampaikan hal ini tanpa khawatir bahwa kau akan mengira aku masih begitu mengharapkanmu kembali ke sini. Sama sekali tidak, pergi dariku itu sudah jadi pilihanmu untuk bahagia, maka kau harus bahagia. Tapi hari ini bersama sisa dari rasa yang bergemuruh itu, aku ingin mengingatkanmu saja. Lewat sisa – sisa perasaan yang ingin kau baik – baik saja walau jauh dari mata, ya hanya sisanya. Agar terbawa semua, agar tidak ada lagi alasan untuk mengingatmu di sini.
Pertama, jangan terlalu banyak minum kopi tanpa gula, tidak baik untuk kesehatanmu belum lagi berapa batang rokok yang kau habiskan dalam sehari. Pintar – pintarlah memilih waktu yang tepat untuk meneguk minuman hitam itu, ku pikir sore hari adalah waktu yang pas. Karena di saat – saat itu, kau baru selesai dari rutinitas dan siap – siap mengambil jeda untuk istirahat. Kalaupun tidak mungkin hanya minum kopi sekali dalam sehari, kurangi lah satu atau dua gelas, terlalu banyak cafeine lah yang membuat matamu terjaga di malam hari. Bukannya kau juga membenci insomia akut yang kau derita? Jangan lupa, sesekali tambahkan gula di kopimu. Jangan sampai terlalu pahit, memangnya bagian mana yang bisa dinikmati dari rasa pahit?
Kedua, minumlah segelas susu hangat beberapa jam sebelum waktu tidur malammu tidak. Cuci kakimu dengan air hangat dan pilihlah baju yang bisa menyerap keringat, agar berkurang gejala insomniamu. Bukannya kau selalu benci ketika jam dua pagi, matamu masih saja berkeliling dunia memutar segala rencana yang tak ada ujungnya. Lalu di pagi hari berikutnya kau datang membenciku, karena aku tinggalkan tidur lebih dulu. Perbaiki kualitas tidurmu, agar baik pulalah metabolisme tubuhmu. Bukannya cita – citamu ingin sedikit lebih gemuk dariku?
Ketiga, tetaplah rakus dan tidak pernah pilih – pilih soal makanan seperti biasanya. Kau tahu apa sebabnya makanmu lahap tapi badanmu tak kunjung berisi? Ya itu, kebiasaan begadangmu mengacaukan metabolisme dan gula darah, semuanya tidak berjalan baik, gula di dalam aliran darahmu terlalu kental hingga kau terus merasa lapar dan itu tidak baik. Ya menimbun terlalu banyak gula dan makanan yang berperisa manis itu tidak baik, seperti yang pernah kau lakukan selama sebelas bulan kita bersama hingga yang terjadi akhirnya adalah luka menahun yang sulit disembuhkan. Ku ulangi, sulit disembuhkan. Bukan, tidak bisa disembuhkan.
Keempat, berhentilah membeli barang – barang yang tidak perlu. Coba pilih lagi, mana yang benar kau butuhkan atau mana yang kau inginkan tapi sifatnya tidak terlalu penting. Uang memang bisa dicari, tapi untuk apa jika akhirnya hanya terbuang jadi sampah. Faham yang ku maksudkan? Jangan sampai salah pilih lagi, jangan sampai membuang perhatian seseorang yang telah kau pilih lalu akhirnya kau buang lagi.
Kelima, tidak perlu tergesa – gesa ketika berkendara. Setiap hal, setiap orang bisa menunggu. Selalu bisa menunggu, kecuali batas waktu yang ada sudah tak lagi bisa diberikan toleransi. Kalau kau tidak mau menerima hal ini, nanti tanyakan padaku soal apa itu toleransi dalam batas menunggu. Aku akan jelaskan, betapa memuakannya waktu ketika ku gunakan untuk menunggu kabar darimu ketika kau pergi tanpa penjelasan.
Keenam, selalu ingatlah hari – hari penting yang terjadi. Misal ulang tahun ibu atau bapakmu, ini bukan mengingatkan ketika kau lupa hari kelahiranku. bukan soal sesak ketika kau bahkan tak ingat hari terpenting itu, itu sudah lama lewat. Tapi agar kelak kau tak lupa lagi hari – hari penting orang yang kau cintai, itu tak hanya sekedar hal lebay yang diperingati. Walau tak kau rayakan, setidaknya kau menyayangi mereka dengan cara menghargai mereka di hari – hari penting hidupnya.
Ketujuh, jangan lupa untuk membuka jendela kamar ketika waktu pagi tiba. Paru – parumu setidaknya butuh istirahat dari asap carbondioksida dan mendapatkan udara segar. Jantungmu juga supaya bisa mengayuh detaknya lebih lancar, yang tak henti mengisi degup dada sebelah kirimu. Dengan begitu, aku harap bahwa aku lebih cepat keluar dari sana.
Kedelapan, jangan pernah mengeluh soal sulitnya mencari pekerjaan. Di luar sana pasti ada tempat untuk segala yang kau cita – citakan, rutinitas yang kau rindukan, juga atasan yang kau impikan. Percayalah kau pasti mendapatkan nasib baik untuk itu, aku yakin kau akan menjadi seorang karyawan yang baik dan memberikan untung besar bagi perusahaan. Aku begitu meyakininya, karena dulu juga kau lakukan hal yang sama di hatiku. Aku pernah begitu menyukai suasana hatiku, ketika kau sibuk membahagiakanku di dalamnya.
Kesembilan, egois itu kadang perlu namun tak baik jika sering dilakukan. Pandai – pandailah melihat bagaimana perasaan orang lain bekerja. Kau tahu bahwa hasil terbaikpun kadang – kadang bukan selalu soal kemenangan, mengalah agar kelak orang faham bahwa kita yang sebenarnya kitalah yang menang. Percayalah, setelah putus asa menghadapi seluruh egomu, kemudian aku mengalah aku tidak hanya menang. Aku juga pernah belajar banyak hal, dalam menghadapi orang yang ku sayang.
Kesepuluh, ini yang terakhir, aku janji. Jika kau terlalu lelah membaca ini. Jatuh cintalah dengan benar, dengan yang mereka pilihkan dan yang akhirnya kau pilih. jangan sakiti orang lain seperti kau menyakitiku, jangan jatuh cinta dulu jika belum cukup dewasa untuk melakukannya. Jangan sampai melakukan atau jatuh lagi di kesalahan yang sama, karena luka yang bisa ditimbulkan olehnya sangat nyeri luar biasa.
Maaf jika suratku kali ini terlalu panjang, namun ketika menulis ini kemudian mengirimkannya beserta semua sisa yang ada aku seperti merasa lega. Rasanya mata seperti menemukan cahaya terang di tengah – tengah jalan buntu yang selama ini membelitku.
Selamat jalan, selamat berbahagia.
Dari...
Aku (yang pernah kau semogakan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar