Mr. Lastrange
Suami dari Bellatrix Lastrange
Kamis, 26 Februari 2015
Untuk Mantan Kekasih Ibuku
Rabu, 25 Februari 2015
Mesin Waktu
mungkin ini terdengar agak gila, entah bagaimana bisa muncul ide begitu saja di sudut kepala menulis surat untuk kalian. padahal kita belum bahkan tidak pernah bertemu, hanya saja aku punya keyakinan bahwa suatu hari akan membaca surat ini bersama kalian, melingkar duduk di sofa malas di ruang keluarga kita. yang harus kalian tahu, bahwa tulisan adalah satu - satunya mesin waktu yang bisa membawa utuh masa sekarang menuju masa depan yang tidak pernah kita pikirkan.
baiklah, aku akan mulai bercerita sekarang pukul tiga lewat delapan belas menit, sore hari. tanggal dua puluh lima februari dua ribu lima belas. aku sedang tugas jaga sore di sebuah puskesmas, yang nanti jika aku benar - benar bertemu kalian akan aku ceritakan bagaimana gilanya suasana di sini. cuaca hari ini benar - benar membuatku harus melepas seragam ketika menuliskan surat ini untuk kalian. lucunya malah turun hujan, bukan mendinginkan suasana. hanya menambah kegilaan di sini jadi seperti neraka.
terserah mungkin kalian bisa menebakku sebagai orang yang sangar lewat tulisan di surat ini, tapi percayalah aku berharap dengan segala sisi kelembutan yang ku punya:
kepada seseorang yang akan aku nikahi, tak peduli kau perempuan atau laki - laki. jujur saja, aku bukan tipe orang yang memisahkan hitam dan putih sendiri - sendiri. aku memoleskan banyak warna untuk duniaku, dunia yang suatu hari akan menyatukan cinta tidak berdasarkan alat kelamin saja. tidak berdasarkan berapa banyak uang yang kau punya, bukan juga pernikahan yang dilandasi rasa takut kesepian menghadapi sisa hidup sendirian.
aku benar - benar tak sabar, suatu hari kita akan menceritakan lagi bagaimana awalnya kita bertemu, berkenalan, mulai menatap kehidupan masa depan di mata masing - masing. hingga mulai percaya, bahwa kau memang yang dipersiapkan untukku, juga aku yang akan jadi pendamping seluruh sisa nafas hingga matimu. bahkan pada hidup setelah kematianmu itu.
percayalah bahkan jauh dari waktu sebelum kita bertemu aku sudah sangat mencintaimu, aku yakin bahwa di masa ini baik kau atau aku kita sedang sama - sama memperbaiki diri sebelum akhirnya saling bertemu dan menjadi pelengkap bagi segala hal yang masih kurang pada diri masing - masing. bagiku hal itu sungguh manusiawi sekali sayangku, menunjukan bahwa kau betul - betul manusia yang utuh. sebesar apapun usaha yang telah kita lakukan, tidak perlu kecewa akan hasil yang kita dapatkan. suatu saat, mungkin apa yang ku dapat adalah untuk melengkapi yang kau punya. begitu pun sebaliknya, semua yang kau peroleh hari ini, bisa menjadi kaki ketiga dan keempat yang membantuku berjalan hingga berlari.
untuk dua atau tiga anak lelakiku, baik yang lahir dari rahim sendiri atau yang kami adopsi. tidak usah khawatir, jika di antara kalian saat ini hadir seorang tuan putri. aku tidak akan membedakan rasa sayang untukmu, Nak. baiklah, jujur ini pertama kali terbesit di pikiran bahwa suatu hari aku akan punya anak. kalian. saat ini usia ku dua - dua, jadi di dalam pikiranku aku tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya punya keturunan. walau aku sering bermain - main dengan keponakanku -sepupu sepupu kalian- aku tak pernah membayangkan bagaimana jika suatu saat aku akan bermain dengan anak ku sendiri.
oh iya, ketika membacakan surat ini pada kalian, aku sudah jadi tipe ayah yang bagaimana? menyenangkan? menyebalkan? atau malah seperti ayah - ayah lainnya yang karena kesibukannya malah melupakan anak - anaknya.
aku hanya berharap, suatu hari bahwa aku akan jadi seorang ayah yang menggendong anak- anaknya satu persatu ketika subuh tiba untuk mengajaknya solat berjamaah. membuatkan sarapan, juga bekal makan siang untuk kalian makan di sekolah. mengantar dan menjemput kalian satu persatu, karena aku begitu khawatir dengan keselamatan kalian, jika bukan aku yang menjaganya. selepas maghrib, aku akan memerahai kalian jika lebih asyik menonton televisi dibanding belajar ngaji. mungkin dengan catatan, di masa itu belum ada tekhnologi yang menggantikan televisi.
menjelang waktu tidur, aku akan mengantarkan kalian satu persatu ke kamar baik dengan kalimat perintah atau dengan dongeng-dongeng yang bisa ku karang dalam sekejap. banyak kok hal konyol dalam hidup yang bisa kita ceritakan. atau maukah kalian mendengar cerita soal banyaknya mantan - mantan pacar ayah selama kuliah?
aku akan mengecek lagi, barang dua atau tiga puluh menit setelah kalian lelap. apakah lampu sudah dimatikan, jendela sudah dikunci, hingga pekerjaan rumah kalian, sudah sempurna atau ada yag harus diperbaiki. yakinlah, semua itu akan jadi lebih penting bagiku dari pada pekerjaan atau kesibukan lain yang mungkin saat itu sedang ku jalani.
itu hanya harapanku saja, keluargaku. jika di saat membaca surat ini, aku tidak sama sekali mencerminkan semua yang aku bacakan di sini. tolong tegur aku, bahwa sebagai orang dengan luka yang berat, aku pun pernah punya harapan yang besar untuk bahagia.
pasti, aku akan sangat menyayangi kalian. selalu.
Selasa, 24 Februari 2015
No tame ni Kagome!
Hai, Kagome! Tapi Kagome kok kena DBD? Jangan berkilah karena kamu manusia, itu benar-benar sebuah alasan yang tidak bisa diterima. Kamu itu perawat, bagaimana bisa perawat merawat pasiennya dengan benar jika perawatnya saja abai sama kesehatan sendiri. --"
Jangan salah faham, aku tidak meragukan kemampuan kamu dalam merawat pasien. Aku kenal betul siapa temanku, dia pasti memberikan yang terbaik untuk setiap pasien yang datang kepadanya. Tapi aku juga tahu, kamu itu kadang selalu lupa pada dirimu sendiri. Lupa makan teratur, lupa olah raga, lupa kalau jam kerjamu sudah lama lewat beberapa jam karena kelewatan asyik hilir mudik dengan semua pasien-pasien itu. Hingga akhirnya sekarang virus itu menyerang bukan? Tolonglah, jangan selalu menuduh semena-mena sama makhluk tak kasat mata itu, jelas kamu kecape-an akibat ulahmu sendiri yang terlalu cinta pada pekerjaan. Duh yen, gimana mau sayang sama orang kalau sama diri sendiri aja nggak?
Hehehe
Yang keluar masuk di hatimu kan gak sedikit, walau juga gak terlalu banyak. Itu setauku ya! Dan setauku juga bagai seorang putri kamu selalu menantikan kedatangan seorang pangeran berkuda putih yang menjemput kemudian membahagiakanmu. Aku selalu tahu dari kedua mata kamu yang lincah menari-nari setiap kali menceritakan lelaki yang sedang dekat denganmu. Aku selalu turut berbahagia, Kagomeku! Mengingat dulu, sebuah kekacauan pernah ku lakukan ketika kamu sedang dekat dengan seseorang. percayalah, apapun yang ku lakukan waktu itu semata-mata untuk menjagamu dari luka berbahaya di kemudian hari.
Tapi itu sudah lama lewatkan, ya? Sudah bukan musimnya kita membicarakan kekonyolan di masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan kamu ke depannya, jangan sampai salah pilih lagi. Tapi juga tidak harus terlalu berhati-hati juga, karena kejadian salah pilih selalu diakibatkan oleh asal-asalan memilih atau justru karena terlalu berhati-hati.
Sudahlah, aku yakin kamu pasti tidak mau aku ikut campur lagi dengan urusan cintamu itu, karena aku juga yakin bahwa inuyasha mu yang tepat suatu saat akan membuatkan istana sendiri untuk kebahagiaanmu.
Aku hanya ingin berterimakasih, Yen. Selama ini sudah menjadi pendengar yang baik, tempat menyimpan rahasia paling aman. Tempat untuk aku tak takut sama sekali menjadi diriku sendiri, terimakasih untuk bahu tempat bersandar atau dada yang lapang yang sering ku jadikan sasaran tempat meledek dan kamu tak pernah merasa tersinggung sama sekali.
Kamu yang selalu sabar dengan semua kekurangan, bahkan salahnya pilihan yang ku ambil. Kami yang selalu mengingatkan agar aku segera pulih dari ketersesatanku yang ku pilih. Terimakasih, karena sudah jadi sahabat sebaik itu.
Terimakasih, karena selalu bersedia menjadi tempat pulang ketika aku berlari terlalu jauh dan kemalaman.
Peluk dan cium
Naraku. :)
PS: lekas sembuh ya Kagome! Ingat, di dunia nyata ini cuma ada obat dan istirahat total yang bisa menyembuhkan penyakit kamu sekarang. Bukan pecahan bola empat arwah!
Senin, 23 Februari 2015
Hai Hijabers!
Untuk Hijaber terbaik yang ku kenal; Risma Erlina Suryani
(dengan segala perjuangannya jauh di pedalaman Banten sana)
Aku rindu Emak! Hahahah... meski aku tidak ingat bagaimana awalnya nama Risma bisa berubah disapa jadi Emak, itu sepertinya ulah si yeni dan teman – teman yang lain ya! tapi aku selalu ingat kok Mak bagaimana kita pertama bertemu. Waktu itu hari pertama seluruh mahasiswa baru dikumpulkan di kampus, kita sama – sama berada di kelompok lima meski kamu jadi yang terakhir bergabung. Aku ingat kamu yang berjalan ke sana ke sini menghampiri setiap kelompok yang berkumpul dan bertanya “kelompok lima, bukan?” lalu saat bertanya padaku, ya betul ini kelompok lima. Sepertinya dari sana lah persahabatan kita dimulai.
Setelah Ospek selesai, ternyata kita satu jurusan! Satu kelas malah. Lalu masa sulit selama kuliah itu kita lewati berlima, bersama si yeni, si fufa, si silvi juga. (jangan bilang-bilang sama mereka soal surat ini, takut mereka minta dibuatkan jatah mereka juga) sampai saat ini kita telah mengabdi di ladang bakti masing – masing, entah bagaimana awalnya kita jadi merasa dekat satu sama lain, sampai muka kita berlima muncul di dalam gelas yang si yeni buat.
Semua itu sungguhlah layak, karena kita memang sahabat. Walau sahabatku memang banyak... hampir setiap kali masuk sekolah, aku pasti punya lagi sahabat – sahabat baru. Hehehe.. berteman dengan banyak orang memang menyenangkan sih, walau aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Yang mungkin kalian tidak tahu, dibalik sikap yang petakilan, penindas, atau jauh lebih cengeng dari anak kecil, aku tetap manusia penyendiri. Yang anehnya, aku yakin kamu tahu soal itu, walau entah bagaimana bisa aku berpikir begitu.
Maaf sebelumnya kalau harus menuliskan ini, aku bisa berpikir begitu jangan – jangan karena kita memiliki banyak kesamaan. Kita sama – sama memiliki seorang kakak yang sangat kita sayangi, kita sama – sama dibesarkan seorang perempuan bernama ibu sendirian. Yang itu berarti kita juga sama – sama kehilangan sesosok lelaki yang teramat dicintai bernama bapak. Walau jenis kelamin kita berbeda, walau kamu lebih rajin solatnya dan aku masih bolong sana sini. Walau kamu begitu rajin menyelesaikan semua tugas kuliah tepat waktu sementara aku lebih senang menundanya. Itu semua tak pernah urung membuat kamu menjadi salah satu teman diskusi yang sangat baik, Mak!
Aku sangat senang berdiskusi hingga berdebat banyak hal dengan kamu, soal agama, ibadah, hingga buku. Meski itu adalah hal yang banyak teman – teman kelas kita hindari dari kamu. Teman – teman sekelas kita memang payah atau kemampuan diskusi mereka yang memang tidak pernah sekelas denganmu. Jujur saja, berdiskusi atau berdebat dengan kamu ujungnya selalu membuahkan hasil buatku. Kamu pendengar dan orang yang tidak pelit untuk beradu argument. Setidaknya aku berbagi soal satu hal dengan orang lain yang akhirnya menimbulkan sudut pandang lain. Itu bagus menurutku, membuatku punya pendapat tambahan ketika hendak membuat keputusan.
Aku suka caramu memberikan pendapat hingga nasihat buat teman – teman yang kadang tersesat. Meski pada akhirnya terkadang jadi memaksa mereka melakukan apa yang kamu katakan, dan marah ketika mereka tidak menerima masukan yang kamu berikan. Hahaha.. itu bukan kebiasaan buruk, Mak! Tenang saja, memberi nasihat itu baik kok. Hanya caranya yang harus diperhalus.
Meski kata teman – teman sekelas kamu menyebalkan, buat ku tidak kok. Kamu selalu mau ketika dimintai bantuan, ketika malam – malam aku meminta soft copy semua materi kuliah, numpang transfer uang mingguan dari rumah lewat atm kamu lah, atau selalu mau meminjamkan uang ketika uang mingguan itu kuotanya habis sebelum tiba awal minggu berikutnya.
Kamu itu menyenangkan, meski tidak pernah mau keliatan mukanya ketika di foto. Meski selalu marah – marah ketika diam – diam aku atau teman yang lainnya mengambil gambarmu. Ya betul kamu dengan prinsip yang kamu pegang kuat – kuat itu begitu mengagumkan. (meski tidak pernah ada penjelasan logis kenapa orang tidak mau difoto, bagi orang yang kecanduan selfie sepertiku). Hingga akhirnya, hijab besar yang kamu gunakan untuk menutupi kodrat dan hidupmu yang menjadi penutup kekagumanku sebagai seorang sahabat.
Aku sangat yakin, bahwa perempuan baik – baik pasti akan berjodoh dengan pria baik – baik pula. Seperti Siti Hawa untuk Nabi Adam, atau Siti Aisyah untuk Rasullah SAW atau seperti putrinya Siti Fatimah Azahra untuk Khalifah Ali suaminya. Aku yakin, kamu juga seperti itu. Mungkin untuk lelaki seperti Dia, jodoh yang kamu ributkan di status BBM mu belakangan ini. Hehehe.. kapan mau dikenalkan? Bisa kok nanti kita jalan bareng, mungkin sambil nonton atau sambil berburu buku lagi.
Salam, Sesama pejuang ujung tombak dunia kesehatan Indonesia.
Minggu, 22 Februari 2015
Aku Rindu Kalian
Hal pertama yang akan kalian dapati ketika membaca surat ini adalah sumpah serapahku, marah karena kalian tidak pernah mau membuat akun twitter. Sehingga aku tidak bisa memberikan alamat tujuan kepada tukang posku ketika mengantarkan surat ini. Blog? Oh, ketika pertama kali membuatnya kalian malah mentertawakanku. “jadi duit gak?”Kalau saja bukan kalian yang menanyakan itu, sudah aku habisi kalian satu persatu. itu pertanyaan yang sampai sekarang masih mengangguku, ya aku juga sedang berpikir bagaimana mendapatkan uang dari sini. Lalu mentraktir kalian makan sampai mati kekenyangan.
Apa kabar kalian semua? Sudah sejauh mana mimpi – mimpi masa remaja terwujud hari ini? Masih ingat tidak, bagaimana dulu kita berlomba memancang tali paling kuat untuk cita – cita masing – masing. Hingga kini mimpi pulalah yang akhirnya membawa kita pergi dan memperlebar jarak di antara kita. Ah, maaf jika aku hanya menulis satu surat ini untuk kalian bertujuh. Salah kalian (termasuk aku) dulu berkumpul dan memutuskan membuat organisasi tak resmi ini dengan banyak anggota, atau salah waktu? Mempertemukan kita dengan cara menyatukan delapan paru – paru berbeda menjadi satu nafas dengan udara yang sama: persahabatan.
Pertanyaanku di awal surat tak usah kalian dengarkan. Dari dulu, persahabatan kita tak pernah dibuat untuk saling menginjak kepala satu sama lain. Aku ingat bagaimana kita menaklukan satu persatu semua organisasi resmi dan setiap perkumpulan bawah tanah sekolah. Semua itu kini jadi bekal dan senjata paling kuat untuk menaklukan semua tantangan dan perisa pahit yang terjadi dalam hidup.
Tau tidak, di antara pasien yang terus datang setiap menit, tumpukan pekerjaan, ditambah nyeri patah hati, aku merindukan kalian. Merindukan kebersamaan kita, bagai waktu dulu. Tak peduli Pekerjaan Rumah yang harus dikumpulkan esok hari, mengerikannya ulangan ekonomi dan akuntansi, atau makan malam yang hanya ditemani secangkir kopi dan ikan teri, asal masih bersama – sama semua kesulitan jadi tidak ada gunanya. Jujur saja, saat ini aku tengah butuh pundak atau senda gurau kalian, biar jadi hiburan bagi masalah yang terus saja datang, tak mau dihabiskan.
Setidaknya aku butuh kalian sebagai otak yang tetap waras ketika aku hampir gila akibat nyeri patah hati dan pahitnya ditinggalkan tanpa alasan. Aku butuh tangan yang tinggi – tinggi mengepalkan tinjunya demi memberi semangat lagi, ketika batas kuatku hampir menyerah karena tak lagi percaya bahwa suatu hari aku bisa bahagia. Aku butuh senyum yang selalu berevolusi jadi tawa terbahak – bahak itu, yang mengusir segala gundah menjadi lelucon yang tak sudah – sudah. Saat ini, aku benar – benar butuh kalian.
Maaf... jika rindu pada kalian baru bisa tumbuh begitu aku mendapatkan kesulitan, itu semua karena aku tahu bahwa sahabat – sahabatku hanya akan menyediakan peluk, bukan pemikiran seperti itu ketika aku merasa kesulitan. Aku tahu bahwa kalian akan tetap menggeser duduk kalian, demi menyediakan tempat kosong satu lagi untuk ku, kemudian mulai mendengarkan semua yang ku ceritakan. Aku tahu, bahwa sahabat – sahabatku selalu mampu meluangkan waktunya untukku. Aku sangat tahu itu...
Aku jadi ingat ucapan seorang perempuan yang menamakan akun instagramnya @iitsibarani dia pernah berkata bahwa sahabat ialah mereka yang tahu kapan memfungsikan lidah dan telinga dengan sempurna; mereka yang tetap ada meski pilihanmu terkadang salah, mereka yang tak ingin apa-apa selain melihatmu bahagia, mereka yang akan selalu ikut mentertawakan masalahmu, masa lalu dan bukan di belakangmu. Dan hasil perkerjaan kalian, selalu sempurna ketika melakukan itu semua.
Akhir kata, maukah mengatur waktu untuk sebuah temu? Reuni kecil – kecilan seperti biasa, tolong kosongkan jadwal pada satu tanggal di bulan depan. Sungguh, aku rindu menghabiskan malam dengan secangkir kopi dan ikan teri bersama kalian.
Sabtu, 21 Februari 2015
Bukan Pasar Malam
Kau tau betapa bengalnya dirimu? Apalagi dalam perkara jatuh cinta. Kenapa begitu mudahnya untuk jatuh padahal kau tau hancurnyapun pasti kau dapat seketika. Kenapa tidak pernah belajar dari yang sudah-sudah? Ingat yang kau abaikan itu perasaan orang, bukan hanya sekedar bulu hidungmu yang kian hari makin panjang.
Tidak salah memang, ketika hati merasa tidak bertaut pada tempatnya. Seperti katamu bahwa setiap pencarian tidak selalu berujung menemukan. Kepalamu sudah faham betul soal itu, tapi tak baik jika mengajak terbang hati orang hanya untuk dihempaskan. Cinta bukan mainan.
Mengapa hobimu begitu mengesalkan? Senang mengoleksi dan mengumpulkan luka, ketika borok yang lalupun belum kering betul kau malah sengaja menusuk kaki dengan paku dari kecewa pada pencarian yang bukan kau inginkan. Tunggulah sejenak, tidak ada salahnya bersabar. Bukannya, urusanmu yang lain pun belum selesai benar?
Seperti kata Pram, hidup bukan pasar malam dan kita tak akan selalu beramai-ramai. Ada kalanya kita perlu mengeja baik-baik apa yang terjadi, benahi dirimu sebelum bertemu dengan dia -orang yang tepat bagimu- sehingga ketika kalian bertemu, kalian telah sama-sama menjadi orang yang lebih baik.
Semua yang terlihat oleh mata akan selalu terlihat mengkilat, bahkan beberapa di antaranya begitu berkilauan. Walau kau dapat memilikinya, jika suatu saat hanya akan kau singkarkan lagi buat apa? Menambah panjang deret dari kesalahan yang sama? Bahkan Adam saja harus menunggu lama, sebelum Hawa tiba sebagai pasangan yang tepat untuknya.
Bawa kompromi otakmu, jangan selalu menuruti rasa takut kesepian dan sendirian. Bahkan di luar sana banyak orang yang sedang merindukan masa-masa sendiriannya. Kasihan hatimu, jika kau pikir bahwa obat untuk nyeri karena patah hati adalah dengan jatuh cinta lagi, mau sampai kapan menipu diri seperti itu? Kau sendiri juga tahu, bahwa terlalu banyak memakan obat itu bagai meracuni organ hati mu pelan-pelan. Begitu juga yang akan ia derita ketika kau memaksanya untuk jatuh cinta kesekian kalinya.
Kau akan kaget sendiri ketika nanti bertemu dengan dia yang tepat bagimu, sadarkah orang di depan cermin itu begitu sangat merindukanmu? Tawa lepasmu? Atau suara lantang berteriak di tengah keramaian? Ketika kau merasa hidup kian sepi dan sulit, ada yang begitu merindukanmu begitu dalam: dirimu sendiri.
Aku.
Jumat, 20 Februari 2015
Setengah Hati
Sukabumi, 20 februari 2015. Di antara udara dingin dan kulkas sebesar kota, aku mengingatmu.
Kau tahu, bahwa bunga tidak berpasangan dengan lalat dan kupu-kupu tidak pernah menghinggapi bangkai. Kau juga tahu bahwa pesawat terbang tidak dikendarai seorang masinis, atau kapal laut tidak dikendalikan seorang kusir. Jika harus ku buatkan alasan, kira-kita begitulah apabila kita melanjutkan langkah-langkah kita berdua selanjutnya.
Aku tahu, bisa jadi kali ini aku menjelma menjadi laki-laki berengsek yang pernah kau temui. Pernah mengejarmu mati-matian lalu kini ku abaikan. Pernah meminta hatimu dengan sangat, tapi kini malah bersikap lebih dari bangsat. Tidak apa, maki aku sekeras apapun. Itu terdengar lebih baik dari pada mendengar tangismu memecah senyap yang mulai menyelimuti kita berdua.
Kita tidak mungkin bisa bersama, ini tidak hanya soal bahwa hatiku telah tertinggal banyak di masa lalu. Kau juga tahu bahwa aku masih dalam upaya mengumpulkan tenaga yang berceceran agar mampu lagi percaya bahwa cinta sejati itu mungkin ada. Bukan sebatas itu saja, hanya apa yang ku cari di senyummu, tidak ku temukan. Ku kira sebelumnya di hatimu aku akan berumah, namun akhirnya aku tahu bahwa aku tidak akan pernah pulang ke sana.
Maafkan, bagiku lebih baik begini, menghentikan langkah kita berdua di sini. Sebelum aku membawamu makin jauh, alih-alih mengajakmu mendayung perahu yang menurutmu akan dibawa ke tujuan tapi malah aku tenggelamkan di perjalanan, tidak baik sama sekali.
Jika kau tetap memaksa, perahu itu mungkin akan tetap ku kayuh tapi bukan dengan kerelaan membahagiakanmu tapi hanya sebatas menghargai, menjaga persaanmu yang tetap memilih bertahan agar tak cepat tenggelam. Memberimu hanya setengah bagian dari hati yang cuma berwujud rasa kasihan, terdengar lebih mengerikan dari perpisahan ini bukan?
Gulung lagi air mata dan rasa sesalmu, kita akan sama-sama belajar bahwa tak semua pencarian berujung menemukan, kita tak bisa begitu saja percaya diri begitu pertama kali bertemu sudah saling merasa mendapatkan cinta sejati. Lipat lagi kesedihan dan segala dendam, mari sama-sama lanjutkan perjalanan semakin sering mencari bukannya peluang untuk menemukan juga semakin besar?
Sampai bertemu lagi di suatu waktu, mungkin saat itu kita akan sama-sama tersenyum mengingat betapa konyolnya kerbersamaan kita beberapa hari ini.
Ttd.
Lastrange