Kamis, 26 Februari 2015

Untuk Mantan Kekasih Ibuku



Untuk (yang katanya) mantan kekasih ibuku

Apa tidak terlalu siang membicarakan masa lalu waktu begini? Oh iya sebelumnya, aku ingin sekedar memberitahumu saja bahwa kemarin aku baru  memberikan sepasang sepatu baru untuk ibuku.  Seperti katamu, agar tak menggores surgaku.
Anggaplah bahwa kini aku berusia dua puluh, jika menurutmu tak mungkin bayi merah berusia satu tahun mempu menulis dan membalas surat untukmu. Aku harus berterimakasih dulu padamu, untuk semua bantuan dan kerja kerasmu pada keluarga ibuku. 7 tahun bukan waktu yang sebentar dan semua pengorbanan yang kau lakukan takkan pernah jadi sesuatu yang sia – sia, tapi coba timbang lagi apa benar itu semua demi cinta? Karena seharusnya cinta tak pernah meminta kembalian.
Jika benar cinta, tidak mungkin sore itu kau memberi pilihan pada ibuku lalu karena tak mendapat jawaban kau bergegas pulang. Itu terdengar seperti seorang pecundang, Tuan. Setidaknya, bapakku walau kau katakan seorang bajingan ia mau bertanggungjawab dan tidak pernah melarikan diri. Katakanlah bahwa aku seorang anak yang bagaimanapun rupa dari kelakuan bapakku, dia tetap bapakku yang harus aku hormati.
Apa benar keputusan melupakan selama – lamanya telah kau penuhi? Aku kurang yakin kalau melupakan bisa semudah tulisanmu waktu itu. Tidakkah kau telah melakukan hal yang sia – sia saja ketika bilang bahwa kau akan bahagia jika ibuku bahagia. Itu persembunyian semacam apa? Iya. Kau hanya sedang main petak umpet dengan luka. Serapat apapun kau sembunyikan tubuhmu, sialnya dia akan tetap menemukanmu. Bisa saja kau berkilah, kepergian dan keputusanmu melupakan demi kebahagiaan ibuku. Lalu apakah tidak terlintas di pikiranmu bahwa ibuku juga senantiasa memikirkan kebahagiaanmu? Tidakkah kau menangkap radar kekhawatiran di dalam suaranya setiap kali ia menelponmu, bisa saja ia mengaku hanya sekedar mengadu karena kelakuan bapakku. Tidak tuan, lebih dari itu dia ingin mengetahui bagaimana keadaanmu.
Karena seburuk apapun bapakku, dia tetap bapakku. Seseorang yang harus ku hormati, yang akan mengajariku bagaimana caranya menjadi seorang lelaki dewasa, kelak di kemudian hari. Termasuk aku akan memintanya memberiku pelajaran soal jatuh cinta atau mencintai seseorang. Bukan untuk mengulang kesalahan yang sama, yang pernah dia lakukan pada ibuku, justru agar hal itu tidak terjadi pada ibu dari anak – anakku.
 Tuan, bisakah kau lipat semua urusanmu dengan masa lalu termasuk ibuku? Karena mencari – cari kabar soal orang di masa lalumu, itu merupakan sebuah tindakan tidak adil bagi setiap orang yang kini hidup bersamamu.  Lebih lagi kau malah membuat surat untukku, seseorang yang sejatinya tidak begitu kau kenal. Biarkan kami di sini juga mengurus kebahagiaan kami sendiri dan kau berjanjilah untuk bahagia juga di sana, tanpa mengingat-ingat lagi sesuatu yang tak pernah bisa kau miliki.
Berhentilah membagi kabar, atau mencuri semua informasi keluarga kami. Hakmu pada ibuku telah jauh selesai di masa lalu.  Tidak bisakah menghargai bapakku? Atau aku setidaknya.  Untuk tidak menghubungi ibuku, dengan semua penyesalan yang selalu kau bawa – bawa di masa lalu.  Biarkan ibuku, kami, hidup dengan kebahagiaan yang setiap harinya masih coba kami susun satu persatu.
Demikian juga ku harapkan padamu, agar kau bisa bahagia dengan siapapun yang kini kau cinta. Mari kita sama-sama jadikan yang sudah terjadi sebagai pelajaran, bukan sebagai hukuman.

Ttd.

Anak mantan kekasihmu.

NB: maaf jika mendadak kau menerima surat ini dari seorang yang tidak kau sangka, bahkan sebenarnya kan aku bukan anak dari mantan kekasihmu.  Hanya saja, aku mengagumi suratmu (http://sijekkk.blogspot.com/2015/02/kepada-putra-kecil-mantan-pacarku.htm), aku selalu menggilai segala hal yang membicarakan antara hubungan anak laki – laki dan bapaknya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar