Untuk
(yang katanya) mantan kekasih ibuku
Apa
tidak terlalu siang membicarakan masa lalu waktu begini? Oh iya sebelumnya, aku
ingin sekedar memberitahumu saja bahwa kemarin aku baru memberikan sepasang sepatu baru untuk
ibuku. Seperti katamu, agar tak
menggores surgaku.
Anggaplah
bahwa kini aku berusia dua puluh, jika menurutmu tak mungkin bayi merah berusia
satu tahun mempu menulis dan membalas surat untukmu. Aku harus berterimakasih
dulu padamu, untuk semua bantuan dan kerja kerasmu pada keluarga ibuku. 7 tahun
bukan waktu yang sebentar dan semua pengorbanan yang kau lakukan takkan pernah
jadi sesuatu yang sia – sia, tapi coba timbang lagi apa benar itu semua demi
cinta? Karena seharusnya cinta tak pernah meminta kembalian.
Jika
benar cinta, tidak mungkin sore itu kau memberi pilihan pada ibuku lalu karena
tak mendapat jawaban kau bergegas pulang. Itu terdengar seperti seorang
pecundang, Tuan. Setidaknya, bapakku walau kau katakan seorang bajingan ia mau
bertanggungjawab dan tidak pernah melarikan diri. Katakanlah bahwa aku seorang
anak yang bagaimanapun rupa dari kelakuan bapakku, dia tetap bapakku yang harus
aku hormati.
Apa
benar keputusan melupakan selama – lamanya telah kau penuhi? Aku kurang yakin
kalau melupakan bisa semudah tulisanmu waktu itu. Tidakkah kau telah melakukan
hal yang sia – sia saja ketika bilang bahwa kau akan bahagia jika ibuku
bahagia. Itu persembunyian semacam apa? Iya. Kau hanya sedang main petak umpet
dengan luka. Serapat apapun kau sembunyikan tubuhmu, sialnya dia akan tetap
menemukanmu. Bisa saja kau berkilah, kepergian dan keputusanmu melupakan demi
kebahagiaan ibuku. Lalu apakah tidak terlintas di pikiranmu bahwa ibuku juga
senantiasa memikirkan kebahagiaanmu? Tidakkah kau menangkap radar kekhawatiran
di dalam suaranya setiap kali ia menelponmu, bisa saja ia mengaku hanya sekedar
mengadu karena kelakuan bapakku. Tidak tuan, lebih dari itu dia ingin
mengetahui bagaimana keadaanmu.
Karena
seburuk apapun bapakku, dia tetap bapakku. Seseorang yang harus ku hormati,
yang akan mengajariku bagaimana caranya menjadi seorang lelaki dewasa, kelak di
kemudian hari. Termasuk aku akan memintanya memberiku pelajaran soal jatuh
cinta atau mencintai seseorang. Bukan untuk mengulang kesalahan yang sama, yang
pernah dia lakukan pada ibuku, justru agar hal itu tidak terjadi pada ibu dari
anak – anakku.
Tuan, bisakah kau lipat semua urusanmu dengan
masa lalu termasuk ibuku? Karena mencari – cari kabar soal orang di masa
lalumu, itu merupakan sebuah tindakan tidak adil bagi setiap orang yang kini
hidup bersamamu. Lebih lagi kau malah
membuat surat untukku, seseorang yang sejatinya tidak begitu kau kenal. Biarkan
kami di sini juga mengurus kebahagiaan kami sendiri dan kau berjanjilah untuk
bahagia juga di sana, tanpa mengingat-ingat lagi sesuatu yang tak pernah bisa
kau miliki.
Berhentilah
membagi kabar, atau mencuri semua informasi keluarga kami. Hakmu pada ibuku
telah jauh selesai di masa lalu. Tidak bisakah
menghargai bapakku? Atau aku setidaknya.
Untuk tidak menghubungi ibuku, dengan semua penyesalan yang selalu kau
bawa – bawa di masa lalu. Biarkan ibuku,
kami, hidup dengan kebahagiaan yang setiap harinya masih coba kami susun satu
persatu.
Demikian
juga ku harapkan padamu, agar kau bisa bahagia dengan siapapun yang kini kau
cinta. Mari kita sama-sama jadikan yang sudah terjadi sebagai pelajaran, bukan
sebagai hukuman.
Ttd.
Anak
mantan kekasihmu.
NB:
maaf jika mendadak kau menerima surat ini dari seorang yang tidak kau sangka,
bahkan sebenarnya kan aku bukan anak dari mantan kekasihmu. Hanya saja, aku mengagumi suratmu (http://sijekkk.blogspot.com/2015/02/kepada-putra-kecil-mantan-pacarku.htm), aku selalu
menggilai segala hal yang membicarakan antara hubungan anak laki – laki dan
bapaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar