Selasa, 10 Februari 2015

Aku dan Taylor Swift

Dear R, kamu kenal Taylor Swift? Perempuan yang tak sekedar cantik namun dia pintar dan sangat menggilai musik, tentu saja aku sepakat dengan pria seluruh dunia untuk menggilainya seperti ia menggilai dunianya. Setidaknya dia tidak perlu pasang silikon di pantat atau menjilat - jilat palu hanya untuk mencuri popularitas. Dia masih sejenis gadis langka, yang bermain gitar namun mengenakan gaun anggun ala - ala putri raja. Percayalah gadis seperti itu yang selalu kami impikan sebagai seorang pria.
Tapi tak adil, jika harus membandingkan kau dengan salah satu orang amerika itu. Kau adalah kau, seseorang yang beberapa hari ini muncul di undangan kontak di bbm, kemudian hampir setiap lima menit sekali mengganti display picture, lalu diam - diam aku perhatikan.
Tahukah engkau bahwa dulu, lewat salah satu lagunya Swift aku pernah meyakinkan seseorang untuk jatuh cinta If you could see That I'm the one Who understands you. Been here all along. So, why can't you see— You belong with me, You belong with me?
Jangan salah faham dulu, aku tidak mungkin memainkan lagu yang sama hanya untuk sekedar meyakinkanmu. Namun di kencan pertama kita tadi malam, ketika untuk pertamakali senyum kita bertemu, aku merasa mendengar Swift menyanyikan Blank Space sebagai musik latar perbincangan santai kita. Saw you there and I thought oh my god look at that face, you look like my next mistake..
Kalimat itu terdengar jelas, saat canda kita mulai berloncatan satu persatu. Ketika semuanya makin mengalir, jemari yang ragu - ragu berangkulan, kesempatan saling mencuri pandangan, hingga ciuman malu-malu, semakin jelas semuanya mengarah kemana: Love's a game, wanna play....

Tidak perlu tergesa - gesa, mari mainkan ini dengan ritme yang ringan seperti selayaknya musik country. Usap pipi dan ujung kepalaku lalu kita lintasi tiap savana atau pemandangan tandus namun menenangkan ala amerika selatan. Saat ini masih terlalu siang untuk bicara tentang cinta bukan? Entah ini akan selamanya atau hanya untuk sementara, namun ketika untuk pertama kalinya senyumku bertamu di matamu, hatiku seperti menemukan rumah.
Tidak, tidak, kataku jangan dulu tergesa - gesa. Tidak maukah mengenali setiap hobi aneh atau hal - hal konyol yang pernah terjadi pada diri masing - masing dulu? Apakah kau tahu bahwa aku tidak pernah bisa makan jika tidak sambil minum? Buat orang itu membuat mual, buatku itu membantu cepat kenyang. Atau akankah kau terkejut saat mengetahui betapa panjang daftar mantan yang ku miliki? Mungkin kau akan mengisi bagian yang masih kosong atau ku tulis namamu sebagai penutup dari daftar tersebut?

Bukankah kita berdua sama - sama bosan pada kisah-kisah lama yang membuat kita kelelahan melupakan? Bekas luka menjijikan yang ku milikipun tak semuanya bisa ditutupi, atau maafkan aku yang kurang sopan ketika ku selidiki kau begitu kehausan akan sebuah pelukan.
Semalam kita sama - sama lelap setelah sama - sama berkeringat, namun yang sangat ku nikmati ketika pagi tiba dadaku jadi bantalmu dan kedua mata kita bertemu, saat itu juga mentari dan pelangi terbit di kepalaku.
Aku ingin jatuh cinta yang sewajarnya, aku ingin kita menikmati setiap detik dan lekuknya, kini genggamlah tanganku lalu sama - sama kita mulai kisah baru.

Tertanda, Manjamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar