Jumat, 06 Februari 2015

Buat Bapak

Pak, adakah bapak baik - baik saja di dalam dekapan Tuhan? Semoga doa - doa baik kami dari rumah selalu sampai ke sana. Sampai akhirnya kelak kita akan berkumpul lagi sebagai sebuah keluarga.

Pak, sejak bertemu terakhir kali waktu lebaran lalu di ziarah selepas shalat ied, sudah banyak sekali yang terjadi. Banyak pak, semakin menumpuk pulalah semua hal yang lewat begitu saja tanpamu, tidak terlalu tergesa - gesakah kepergian itu? Sebagai anak laki-laki saya sepakat dengan anak lelaki lainnya, jika tidak memiliki seorang ayah itu berarti kehilangan terbesar bagi seorang anak laki-laki. Karenanya kami kehilangan kesempatan belajar banyak hal. Soal hobi, pekerjaan, kehidupan bahkan hal memuakan soal jatuh cinta. Dan kita berdua telah kehilangan belasan tahun untuk dapat membicarakan hal itu, terlalu banyak hal yang saya sembunyikan atas nama gengsi seorang lelaki. Bapak pasti mengerti..

Pak, seandainya saja bapak masih di sini. Bapak pasti akan kesal, karena anakmu kini tak mewarisi satupun hal yang kau gemari. Tidak soal sepakbola, tidak juga soal rhoma irama. saya lebih senang menulis dan bercerita, menulis cerita tentang apa saja. Kadang berisi bagaimana limbungnya seorang anak laki - laki menjalani kehidupan tanpa sosok panutan atau soal bagaimana lelaki dituntut dewasa dengan cara - cara lawan jenis, padahal kami sudah berupaya melakukan yang terbaik. Lalu dituduhlah bahwa lelaki yang selalu memberikan bencana pada mereka. Dunia sekarang ini seperti itu pak, ah apakah sejak dulu begitu? Kita selalu saja jadi pihak yang salah?

Pak, seandainya bapak masih di sini, bapak pasti tidak akan banyak bicara soal pekerjaan yang sangat menguras tenaga ini. Hampir 84 jam, selama sepekan saya tidak berhenti mengurus orang sakit. Ibu bahkan kadang marah karena saya lebih mementingkan kesehatan orang lain dari pada kesehatan sendiri. Tapi saya yakin, bapak pasti tidak ingin anak lelakinya mengeluh soal ini. Di mata perempuan iti, sampai kapanpun anak-anaknya adalah anak yang lucu dan tak pernah tumbuh dewasa, kaupun pasti tahu bahwa dalam hidupnya ibu selalu dipenuhi rasa kekhawatiran. Tapi pak, saya sangat menyukai pekerjaan ini. Bagaimana tergenapinya bahagia ketika mengumpulkan satu persatu senyuman dari mereka yang berharap lekas sembuh, atau ketika memberikan kembalian dari rasa syukur karena selalu mendapatkan ilmu baru dari mereka.

Pak, seandainya saja bapak masih di sini, apakah bapak akan marah jika hampir tujuh puluh persen dalam hidup saya habis di layar sentuh telpon genggam. Bahkan perbincangan kita sekarang ini hanya saya usap - usap di atas deretan huruf dan angka layar datar. Saya ragu bapak akan suka, mengingat dulu begitu sulitnya untuk mendapat sedikit hiburan saja dari televisi. Tapi saya yakin bapak akan selalu setuju soal kemajuan, dunia sudah berlari terlalu jauh. Bahkan sore ini saya akan makan sushi jepang tanpa harus ke jepang pak.

Pak, seandainya saja bapak masih di sini. Bapak mungkin akan memberikan saya penjelesan kenapa ibu begitu keras kepala dan sulit ditaklukan. kadang ada banyak cita - cita yang tak bisa didapatkan hanya karena ia terlalu khawatir atau takut kehilangan. Tapi, kita akan sama - sama sepakat soal betapa besarnya cintanya pada kita berdua. Bagaimana ia rela mengusirkan kucing yang masuk ke dapur ketika saya makan, atau ia yang rela repot-repot memasakan air ketika saya pulang kehujanan. Saya ingin mendapatkan pendamping secinta itu pak, dulu bapak bertemu ibu di mana? Dari semua dosa dan kenakalan yang seperti ini apakah saya layak mendapatkan perempuan sekuat itu?

Karena pak, ingatkah soal seseorang yang saya bicarakan lebaran lalu pada bapak?
Dia menikahi orang lain...

Jagoan kecilmu, selalu.

1 komentar: