Minggu, 01 Februari 2015

Menunggu dan Melupakan

Hai, apa kabar? Sedang sibuk apa kamu? Apakah perjalanan mencari bahagia yang sesuai menurut dunia apa kini sudah kamu dapat? Aku senang, setidaknya salah satu dari kita sudah selangkah lebih jauh setelah hari perpisahan yang sama – sama kita tidak sepakati itu.
Sekedar berkabar saja, bahwa ini sudah hari ketiga aku menulis surat untukmu.  Aku sudah berjanji pada diriku, pada panitia, pada tuhan, ingin rasanya waktu 30 hari ini aku gunakan sebagai salah satu pijakan besar sebelum aku melompat pada tanah lapang, bernama melupakan.  Aku benar – benar menginginkannya.
Hari ini, sebelum ku ratakan lagi kertas yang ku remas sebelum ku tulisi ini, aku berkali – kali menerapkan metode relaksasi untuk menarik dan membuang nafas di paru – paruku, kata dosenku dulu itu bisa menjadi pengusir marah dan meredakan perasaan depresi. Ketika udara mengalir ke paru – paru aku berjanji bahwa aku tidak akan menulis dalam kondisi otak dan tangan diliputi perasaan emosi, aku malu pada tukang posku jika tanpa sengaja dia melihat isi suratku dan dan menemukan isinya yang hanya berupa kutukan. Aku ingin selayaknya surat cinta yang terasa manis, aku ingin kali ini surat cintaku terasa manis.  Meskipun aku tahu, bahwa tak ada hal manis dalam melupakan atau menunggu seseorang.
Dan ketika menghembuskan nafas, aku tahu, lega yang keluar dari sana tidak pernah lagi sama setelah bukan kau yang menjadi udaranya.
Ini hari pertama di bulan februari, dengan hujan pertamanya yang membuat seluruh dan jalanan basah seharian.  Aku bisa melihat seluruh dunia dari balik jendela, tak ada satupun benda kering yang disisakan  air. Bulan penuh cinta pertama yang aku lewatkan tanpamu, namun entah bulan februari yang ke berapa puluh yang ibuku lewatkan tanpa bapakku.
Kau masih ingat bukan, salah satu perempuan yang pernah aku ceritakan itu? Iya dia ibuku. Waktu kita yang tak banyak, membuatku tak sempat memperkenalkannya padamu.  Padahal dia adalah sosok hebat, yang tak lekang oleh waktu. Salah satu kehebatannya adalah menunggu tanpa jemu. Sepeninggal bapak dulu, ibu tidak pernah mau untuk jatuh cinta apalagi harus repot – repot menikah hanya untuk menghabiskan masa tua dengan orang lain, yang cintanya belum tentu sama, kata dia. Ibu hanya menunggu, ia yakin bahwa suatu saat ia akan bertemu lagi dengan bapak. Ia yakin bahwa janji suci di depan kakek dulu hanya bisa disatukan dan dipisahkan oleh tuhan. Meski aku tahu, bahwa ia tidak baik – baik saja. Bahwa menunggu tak semenyenangkan itu. Ia yakin, bahwa bapak juga sedang menunggunya di sana.
Ibu ku memang keras kepala, dan itu harta yang diwariskannya ke dalam darahku.  Pasti kau juga tahu bagaimana sifat batuku bekerja.  Membentur – bentur diri sendiri sampai menjadi debu. Aku kini belajar dari ibuku lagi, mencoba meyakini bahwa tidak ada penantian yang sia – sia. Aku ingin sesabar dirinya dan menyalakan harap lagi bahwa suatu saat kau akan kembali ke sini, memanen lagi ladang rindu yang semuanya masih milikmu.
Aku tidak pernah mencoba menceritakan luka yang kita dapat dari perpisahan kita pada ibu. Sebagai anak lelaki aku hanya biasa bercerita soal mimpi yang satu – satu mulai bisa ku kantongi. Meski kadang, ia sering menagihku untuk mendongengkan cerita cintaku padanya. Tapi tak bisa, mulutku tertutup rapat untuk menceritakan semua soal kita.  Aku tidak mungkin menjejalkan cerita penanak luka itu ke dalam telinganya.
Suatu hari nanti, pasti kisah ini akan aku ceritakan pada sosok seorang ibu lagi.  Tapi tetap tidak akan pada ibuku.  Dia terlalu baik untuk mendengar cerita semengerikan ini soal anaknya.  Akan ku ceritakan bagian terbaiknya, bagian di mana bahwa aku telah merasa tergenapi, bahwa harapanku telah membawaku menemukan orang yang tepat, bahwa waktu pernah membuatku jatuh cinta dan menemukan orang terbaik yang pernah ku cintai. Ya tentu saja di bagian itu, di bagian aku menemukanmu.  Sebelum akhirnya kehilangan. Akan ku ceritakan hal itu, pada ibu dari anak – anakku. Akan aku ceritakan bahwa aku pernah bertemu dengan cinta yang baik sebelum bertemu dengan cinta yang tepat.
Hujan di luar sudah mereda, dan hari pertama yang basah di bulan februari ini juga semakin tak punya banyak waktu. Sebelum ku selesaikan surat ini dengan kalimat penutup, berjanjilah untuk membantuku dalam upaya melupakanmu.  Abaikan jika ada kalimat yang mengharapkan kepulanganmu di dalam surat ini, tetaplah melangkah ke depan.  Apa yang kita punya di belakang, sejak hari ini mari sama – sama kita jadikan cermin besar, bahwa jika kaki ingin melangkah kembali ke sana, itu artinya kita tidak pernah ke mana – mana.
Selamat sore, sampai bertemu lagi di surat selanjutnya, Biw.

2 komentar: